Cerita Sedekah di Pagi Hari

Foto : Ilustrasi (istock/SandraKavas)

Suara ayam jantan berkokok begitu nyaring mengusik tidur nyenyak seorang Tommy. Dia enggan membuka mata, tapi akhirnya terpaksa dia buka. Tanpa cuci muka, Tommy langsung bergegas keluar rumah untuk mencari sarapan nasi uduk buatan bang Reki yang terkenal lezat dan porsinya yang begitu besar.

Beberapa meter sebelum mencapai Langgar, ia mendapati cak Mus yang sedang menutupi lobang dijalan dengan batu kerikil. Tommy tau, lobang itu memang sudah beberapa hari ini belum diperbaiki. Lalu Tommy menyapa.

“Assalamualaikum”

“Walaikum assalam nak,” jawab cak Mus.

“Kenapa bapak sersusah payah memperbaiki lobang ini. Ini kan harusnya urusanya pak RT ? Bapak disuruh sama pak RT ?,” tanya Tommy.

“Tidak nak, ini kemauan bapak sendiri. Kasihan kan orang lalu lalang disini yang akan menuju Langgar. Apalagi yang bawa motor atau sepeda, wah bisa bahaya nak, yah hitung-hitung bersedekah lah walau apa adanya dan sementara sifatnya,” ujar cak Mus.

Mendengar jawaban Cak Mus, Tommy pun teringat apa yang selalu cak Mus lakukan akhir-akhir ini. Ia pernah mendapati cak Mus menyingkirkan krikil-krikil atau kotoran binatang dijalan supaya orang nyaman berjalan di gang ini.

Ia juga pernah melihat Cak Mus menutup kran air wudhu Langgar yang ditinggal orang terbuka begitu saja, membersihkan selokan tetangganya, rasanya tak terhingga kebaikan yang cak Mus lakukan untuk kepentingan orang lain.

Namun tak ada perhatian maupun penghargaan dari orang lain dari apa yang sudah cak Mus lakukan. Tapi sedihnya, cak Mus itu bukanlah orang yang berkecukupan. Dia adalah seorang tukang kebun di komplek perumahan yang tak jauh dari sini, dengan beberapa ekstra pekerjaan diluar pekerjaan tetapnya. Ia menafkahi istrinya dan 2 anak seadanya.

“Seharunsya bapak berhak mendapatkan sesuatu dari ini pak,” ungkap Tommy.

“Hehehehe. Sudahlah nak bapak ikhlas, namanya juga sedekah. Kalau bapak punya kemampuan harta, maka harta itu akan bapak sedekahkan, kalau bapak punya ilmu maka ilmu itu yang akan bapak sedekahkan. Sedekah untuk memperbaiki jalan ini, namun saat ini bapak hanya bisa sedekah dengan tenaga. Ya untung badan bapak masih sehat dan kuat., dengan tangan dan kaki bapak yang masih mampu ini, ya inilah sedekah bapak,” jawab cam Mun.

“Maaf pak, saya berbicara tidak pada tempatnya,” ujar Tommy.

“Oh tidak apa-apa nak. Saya memang sangat senang untuk sedekah, berbuat segala kebaikan untuk oarng lain. Kalau tangan dan kaki ini pun tidak mampu maka sedekah bapak adalah dengan berkata-kata baik dan bermanfaat dengan nasehat. Jika dengan itu bapak tidak mampu, maka sedekah bapak adalah dengan tersenyum dan jika bapak dipanggil oleh Allah, maka sedekah bapak adalah cangkul ini dan Al Qur’an yang bapak punyai, bapak berikan kepada orang lain atau Langgar dan itu jadi sedekah jariyah bapak, ins sha Allah,” jelas cak Mun.

Rasa malu menyelimuti hati Tommy, lalu ia berlalu menuju warung terdekat disana kemudian berbalik kearah cak Mus sambil membawakan kopi panas dan sebungkus nasi uduk bang Reki untuk cak Mun.

#$uf, Toboali 23 Mei 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar