Di Balik Kecerdasan Gus Dur

H Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), sahabat karib KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengungkapkan misteri tidur Gus Dur yang kerap memahami pembicaraan orang-orang di forum meskipun dirinya terlelap.

Cerita ini ia dapatkan langsung dari Gus Dur ketika orang-orang ramai membicarakan tidurnya. Saat orang-orang terkesima, Gus Mus justru menanggapinya biasa-biasa saja; tidak ada yang aneh, tidak ada juga yang tak masuk akal perihal misteri tidur Gus Dur ini.

Gus Mus seperti yang ditulis KH Husein Muhammad dalam buku Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (2015) mengungkapkan bahwa kecerdasan Gus Dur justru terletak pada kesiapan dirinya menghadapi forum-forum besar. Gus Mus berkata: “Tak ada yang aneh jika Gus Dur bisa seperti itu.

Tak ada yang tak masuk akal. Gus Dur punya siasat dan bisa dipahami. Manakala menerima undangan untuk diskusi, seminar, simposium, dialog, atau konferensi, dan sejenisnya, Gus Dur lebih dulu mencari tahu siapa saja pembicaranya. Lalu Gus Dur mempelajari pikiran-pikirannya, perspektifnya, dan gagasan-gagasan yang pernah disampaikannya, baik dalam karya-karya tulisnya maupun ceramah-ceramahnya.

Nah, dari membaca semua itu, Gus Dur menangkap apa yang akan dibicarakan dan disampaikan para pembicara atau narasumber itu kelak.” Gus Mus juga menceritakan, di antara kecerdasan dan kehebatan Gus Dur yang lain adalah kecepatannya membaca dan memahami isi buku.

Hal itu terjadi ketika Gus Mus menemani Gus Dur mengunjungi sebuah toko buku. Kedua sahabat ini ditemani putri pertama Gus Dur, Alissa Wahid. Gus Mus mengisahkan, saat itu mata Gus Dur masih sehat. “Gus Dur bilang, mau membeli buku,” ujar Gus Mus (KH Husein Muhammad, 2015).

Begitu sampai di toko, Gus Dur dengan seksama melihat-lihat buku di toko tersebut. Bila ada buku yang menurutnya menarik, Gus Dur langsung membukanya. Dia membaca lembar demi lembar dengan sangat cepat. “Seperti tidak membaca saja,” kata Gus Mus.

Berbeda ketika Gus Dur melihat ada sesuatu yang menarik di dalam buku, ia membacanya sedikit lebih lama. Begitu dirasa cukup, Gus Dur meletakkannya kembali di tempat semula. Tiba-tiba, Gus Dur mengajak Gus Mus dan Alissa Wahid pulang. Hal ini mengherankan mereka berdua karena tujuan awal Gus Dur membeli buku. “Lah Pak, enggak jadi beli buku, toh?” tanya Alissa Wahid. “Aku sudah tahu isinya,” jawab Gus Dur.

Kegandrungan Gus Dur terhadap buku juga diceritakan oleh Greg Barton dalam bukunya yang berjudul Gusdur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Diceritakan Greg Barton dalam bukunya tersebut, Gus Dur sejak masih kecil telah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Hal ini menjadikan Gus Dur akhirnya gemar belajar dan membaca buku. Alhasil, wawasannya kian luas, meliputi berbagai bidang kehidupan.

Apalagi ayahnya selalu memberinya buku bacaan agar Gus Dur tidak kekurangan bahan bacaan. Sejak usia muda, Gus Dur memang sudah hobi membaca. Buku berbagai jenis tak luput dari pandangan mata Gus Dur. Bahkan di usia muda, dunia filsafat pun tak lepas sebagai bacaan Gus Dur. “Sebagai seorang remaja, ia mulai bergulat dengan tulisan-tulisan Plato dan Aristoteles. Serta pemikir-pemikir penting dari cendekiawan Islam abad pertengahan,” tulis Greg Barton.

Tentang kesan Aristoteles, Gus Dur menceritakan bahwa pada tahun 1979 dirinya pernah berkunjung ke Maroko. Kisah tersebut Gus Dur sampaikan ketika memberikan sambutan dalam kegiatan silaturrahim ke Pondok Pesantren Al-Asy’ariah Kalibeber Wonosobo, Jawa Tengah tahun 2000. Gus Dur waktu itu sedang menjabat sebagai Presiden RI.

Di salah satu masjid di Maroko, Gus Dur mendapati sebuah kitab terjemahan Bahasa Arab, yaitu kitab Etika karangan Aristoteles. Kitab yang berisi tentang materi etika atau akhlak tersebut terletak di sebuah bejana kaca ruang hampa udara.

Itu dimaksudkan supaya bisa tahan lama, karena kitab dimaksud ada sejak zaman permulaan Islam. Menyaksikan kitab langka yang berada di bejana kecil itu, Gus Dur menangisinya. Melihat Gus Dur menangis terharu, imam masjid setempat bertanya: “Kenapa Anda menangis?” tanya sang imam masjid. “Kalau bukan karena kitab ini, saya tidak akan jadi Muslim,” jawab Gus Dur.

Lewat cerita di atas Gus Dur menyimpulkan bahwa akhlaknya para kiai dan ulama Indonesia yang selama ini dipraktikkan itu bersumber tidak hanya diambil dari nilai-nilai saja, melainkan juga diambil dari nilai-nilai dan etika sebelumnya.

Dia mencontohkan, Aristoteles lahir 1.200 tahun sebelum Islam. Kalau tidak karena kitab ini, kata Gus Dur, dirinya tidak akan jadi seorang Muslim. Karena menurut Gus Dur, seorang Muslim adalah yang menerapkan nilai-nilai dan etika Islam yang ditujukan untuk mewujudkan kebaikan bersama dan keadilan di tengah masyarakat.

Bukan Muslim yang hanya menonjolkan simbol-simbol Islam, tetapi jauh dari nilai dan etika Islam rahmatan lil ‘alamin. Kemampuan tingkat tingginya dalam membaca juga diceritakan oleh almaghfurlah KH Buchori Masroeri Semarang, ulama yang pernah memimpin NU Jawa Tengah, juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu yang dipopulerkan grup kasidah Nasida Ria.

Diceritakan oleh KH Buchori Masroeri, ketika menjadi santri KH Chudlori di Tegalrejo, Magelang, sekitar tahun 1955, bacaan Gus Dur yang masih berusia 15 tahun adalah Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa Inggris, The Holy Quran. “Zaman tahun 1955, Gus Dur cekelane (pegangannya) Al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris, The Holy Quran. Pangepunten (mohon maaf), kacamatanya sudah tebel waktu itu,” kata Kiai Buchori Masroeri saat memberikan ceramah Haul Gus Dur di Masjid Agung Demak pada 2014 lalu.

Kiai Buchori juga menceritakan ketika Gus Dur mampu menyelesaikan membaca novel The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan) karangan Salman Rushdie di pesawat terbang dari Soekarno Hatta, Jakarta, sampai Juanda, Surabaya. Buku tebal itu dilahap Gus Dur sampai tamat. (Fathoni)

Sumber: https://www.nu.or.id/fragmen/di-balik-kecerdasan-gus-dur-s2GMW

Bacaan Lainnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *