Artikel

Innalillahi, Wartawan Pecinta Kopi Itu Tutup Usia

Dunia pers berduka. Hatomi, wartawan di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang akrab disapa Tom, telah mengembuskan napas terakhirnya.

Kepergian pria kelahiran tahun 1985 itu meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan-rekan seprofesi.

Sosoknya dikenal sederhana, nyaris tanpa atribut berlebihan. Kaos oblong dan celana jeans menjadi penampilan sehari-hari yang melekat, mencerminkan karakter dirinya yang apa adanya.

Namun di balik kesederhanaan itu, Tom adalah jurnalis dengan karakter kuat. Bagi rekan sejawat dan juga para narasumber yang kerap “dibuat berkeringat” oleh pertanyaan tajamnya, ia merupakan figur yang sulit dilupakan.

Ciri khasnya begitu mudah dikenali, kepala botak plontos yang mengilap, seolah menjadi simbol keterbukaan. Tanpa penutup, tanpa kepura-puraan.

Dalam menjalankan tugas jurnalistik, Tom dikenal kritis. Di tengah derasnya arus informasi yang kerap sarat kepentingan, ia tetap berdiri tegak.

Setiap menemukan kejanggalan dalam kebijakan publik, ia tidak segan mengejar narasumber hingga ke pelosok, demi mendapatkan jawaban yang jujur dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Di luar aktivitas liputan, keseharian Tom tak lepas dari kopi hitam. Segelas kopi tanpa gula baginya bukan sekadar minuman, melainkan filosofi. Pahit, jujur, dan tanpa pemanis seperti prinsip jurnalisme yang ia pegang teguh.

Baca juga  Potret Buram Keterbukaan Informasi Publik di Bangka Belitung

Di sudut-sudut kedai kopi sederhana, ia kerap terlihat duduk dengan ponsel di tangan, mengetik berita, ditemani kepulan uap kopi yang tak pernah absen.

“Adalah… kebenaran itu seperti kopi hitam,” ucapnya suatu waktu, sambil mengedipkan mata berulang-gaya khas yang selalu diingat orang-orang terdekatnya.

Dari meja kopi itulah, berbagai isu kompleks ia uraikan menjadi tulisan yang mudah dipahami publik. Ia hadir sebagai penyambung suara masyarakat, terutama mereka yang kerap tak terdengar di tengah riuhnya kekuasaan.

Kini, kursi di sudut kedai kopi itu kosong. Tak ada lagi diskusi hangat tentang keadilan sosial, tak ada lagi sosok dengan kepala plontos yang setia mendengar dan mengkritisi.

Kepergian Tom menjadi kehilangan bagi dunia pers, khususnya di Bangka Belitung. Ia telah menunjukkan bahwa jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk menjaga nurani publik tetap hidup.

Selamat jalan, sahabatku. Semoga tenang dalam peristirahatanmu. Jejak langkah dan tulisanmu akan tetap hidupdalam setiap upaya menegakkan kebenaran, dan dalam setiap tegukan kopi hitam yang mengingatkan pada keberanianmu.

Penamu mungkin telah terhenti, namun semangatnya akan terus menyala. 

Pangkalpinang, 2 April 2026

Ahmad Yusuf

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!