H. Andi Kusuma Serukan Evaluasi Pondok Pesantren Jadi Kunci Cegah Kasus Pencabulan di Basel
BANGKA SELATAN, MEDIAQU.id – Kasus pencabulan yang terjadi di wilayah Bangka Selatan menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Fenomena ini sangat mengkhawatirkan karena sebagian besar pelaku justru berasal dari kalangan yang seharusnya menjadi panutan, seperti oknum pengajar atau tokoh masyarakat.
H. Andi Kusuma, tokoh masyarakat yang juga aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan di Bangka Selatan menilai bahwa masalah ini membutuhkan penanganan yang serius dan menyeluruh dari semua unsur yang ada di daerah tersebut.
“Sangat memprihatinkan ketika mereka yang seharusnya menjadi contoh dan pelindung bagi anak-anak justru menjadi pelaku kejahatan seperti ini. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan karena akan sangat merusak moral dan masa depan generasi muda kita,” ungkap H. Andi Kusuma kepada Mediaqu.id, Minggu (25/5/2025).
Menurutnya, kasus pencabulan bukan hanya masalah individu, tetapi sudah menjadi persoalan sosial yang memerlukan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh agama, hingga masyarakat luas.
“Kita semua harus berperan aktif dalam melakukan pencegahan dan penanganan kasus-kasus seperti ini. Tidak hanya dengan penegakan hukum, tetapi juga dengan pendidikan dan pengawasan yang ketat,” jelasnya.
Salah satu fokus utama yang diusulkan H. Andi Kusuma adalah perlunya evaluasi dan pengawasan terhadap pondok pesantren dan institusi pendidikan keagamaan di Negeri Junjung Besaoh. Pondok pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan moral anak-anak, sehingga pengawasan terhadap pengelola dan pendidiknya harus diperketat.
“Pondok pesantren merupakan tempat yang sangat strategis dalam mendidik generasi muda. Namun, apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik, maka bisa saja terjadi penyimpangan yang merugikan anak-anak. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh harus dilakukan agar tidak ada celah terjadinya pelanggaran,” ujarnya.
H. Andi Kusuma menambahkan, evaluasi tersebut tidak boleh hanya dilakukan secara formalitas saja, melainkan harus melibatkan berbagai elemen masyarakat dan lembaga terkait agar hasilnya benar-benar objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami berharap pemerintah daerah, Dinas Pendidikan dan Agama, serta tokoh masyarakat dapat bersinergi dalam melakukan pengawasan ini. Transparansi dan akuntabilitas harus menjadi prioritas agar kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan keagamaan tetap terjaga,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat untuk tidak takut melapor jika mengetahui adanya kasus pencabulan atau tindak kekerasan terhadap anak di lingkungan mereka.
“Peran serta masyarakat sangat penting dalam mengungkap dan mencegah kasus ini. Jangan diam saja, segera laporkan ke pihak berwajib agar pelaku dapat diberikan sanksi tegas dan korban mendapatkan perlindungan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan seksual yang benar dan penguatan nilai moral sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolah.
“Pendidikan yang tepat sejak usia dini sangat membantu anak memahami batasan-batasan dan menjaga diri dari bahaya pelecehan. Orang tua dan guru harus proaktif dalam membimbing anak-anak agar mereka tidak menjadi korban maupun pelaku,” ujarnya.
Dengan sinergi semua pihak dan langkah-langkah yang terencana, diharapkan kasus pencabulan di Bangka Selatan dapat ditekan dan perlindungan terhadap anak-anak semakin maksimal.
“Kita semua berkewajiban menjaga masa depan generasi penerus bangsa dengan memberikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang mereka,” tutupnya. (Suf)




