Pangkalpinang

Prof Udin Kenang Masa Kecil di Pangkalpinang, Tekad Majukan Kota Kelahiran

Di sebuah rumah sederhana di kawasan Kacang Pedang, Pangkalpinang, lahirlah Saparudin pada 12 April 1969. Warga kota mengenalnya sebagai Prof Udin sosok yang tak pernah lepas dari senyum hangat dan tutur kata bersahaja. Namun jauh sebelum gelar dan reputasi menghampirinya, ia hanyalah anak kampung yang hari-harinya diwarnai canda tawa bersama teman sebaya.

Masa kecilnya adalah cerita tentang tanah berpasir, pepohonan rindang, dan sungai yang menjadi saksi tumbuh kembangnya. Sungai Rangkui menjadi tempat bermain sekaligus sekolah kehidupan pertama baginya.

“Kalau sore, kami ramai-ramai berenang di Sungai Rangkui. Dari situ saya belajar kebersamaan dan keberanian,” kenangnya dengan mata berbinar.

Tanpa gawai, tanpa permainan canggih, masa kecil Prof Udin diwarnai kesederhanaan yang justru melahirkan persahabatan tulus. Ia tumbuh dalam keluarga yang menanamkan nilai solidaritas dan kepedulian terhadap sesama, nilai-nilai yang menjadi bekal hingga ia dewasa.

Baca juga  PKK Sebagai Mitra Kerja Pemerintah Harus Menjadi Pelopor dan Pembaharu

Kini, puluhan tahun berlalu, jalan hidup membawanya kembali ke kota kelahirannya dengan satu tekad: membayar semua kenangan itu dengan pengabdian. Baginya, Pangkalpinang memiliki potensi besar untuk maju, asalkan berani memanfaatkan teknologi dan menatap masa depan.

“Teknologi bisa menjadi kunci meningkatkan pelayanan publik dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Pangkalpinang harus beradaptasi dengan kemajuan ini. Kalau tidak, kita akan tertinggal di landasan,” ucapnya mantap.

Kisah hidup Prof Udin adalah kisah anak kampung yang ditempa oleh kebersahajaan. Dari tepian Sungai Rangkui, ia tumbuh menjadi pribadi yang berani bermimpi besar: melihat Pangkalpinang berdiri sejajar dengan kota-kota modern lain di Indonesia. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!