Pangkalpinang

Kombes Pol Jojo Sutarjo Pastikan Harga Beras di Bangka Belitung Stabil

80 Persen Pasokan Masih dari Luar Daerah

PANGKALPINANG — Satuan Tugas Pangan Polda Kepulauan Bangka Belitung bersama Badan Pangan Nasional Republik Indonesia melakukan pemantauan harga dan ketersediaan beras di sejumlah pasar tradisional serta distributor di Pulau Bangka, Kamis (23/10/2025).

Langkah ini dilakukan untuk memastikan mutu, kualitas, ketersediaan, dan stabilitas harga beras di wilayah Bangka Belitung, sekaligus menindaklanjuti hasil rapat koordinasi (rakor) yang digelar sehari sebelumnya, Rabu (22/10/2025).

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Babel, Kombes Pol Jojo Sutarjo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan hari kedua pemantauan bersama tim gabungan dari Polda, Pemprov Babel, dan Bapanas RI.

“Ini hari kedua pemantauan oleh tim Satgas kita, baik dari Polda maupun Provinsi, bersama Badan Pangan Nasional di beberapa pasar dan distributor yang ada di Pangkalpinang maupun Kabupaten Bangka,” jelas Jojo.

Dari hasil pemantauan, kata Jojo, harga beras di wilayah Bangka Belitung secara umum masih dalam kondisi aman dan terkendali.

Senada dengan itu, Inspektur Badan Pangan Nasional, Muhammad R. Imron Rosjidi, menyampaikan bahwa pemantauan ini juga bertujuan untuk melihat kepatuhan pelaku usaha terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) serta memastikan mutu beras yang beredar.

Baca juga  Tekankan 5 Poin Komitmen Peningkatan Tata Kelola Pemerintahan

“Kami ingin memastikan harga beras di pasaran sesuai HET yang ditetapkan pemerintah. Harga yang wajar akan menguntungkan pedagang sekaligus tidak memberatkan konsumen,” ujar Imron.

Selain harga, tim juga meneliti kelabelan dan mutu beras di pasaran. Imron mengungkapkan masih ditemukan beberapa beras, terutama jenis premium, yang dijual sedikit di atas HET. Namun, menurutnya, secara umum harga beras di Babel masih sesuai ketentuan.

“Kami menemukan sebagian kecil beras premium yang di atas HET, tapi tidak terlalu jauh. Hal ini wajar karena Bangka Belitung bukan daerah sentra produksi beras,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sekitar 80 persen pasokan beras di Babel berasal dari luar daerah, terutama dari Pulau Jawa dan Sumatera Selatan. Kondisi tersebut membuat harga sangat dipengaruhi oleh biaya distribusi dan pasokan antar pulau.

“Kami berharap kegiatan ini bisa meningkatkan kesadaran pedagang agar memperhatikan batas tertinggi harga yang diizinkan serta menjaga kualitas beras yang dijual,” tambahnya.

Pemantauan kali ini juga diikuti oleh Kasubdit Indagsi Ditreskrimsus Polda Babel, Bulog, BPS Provinsi Babel, serta instansi terkait dari Pemerintah Daerah.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!