ERROR of THEME - ERROR of THEME - ERROR of THEME Benang Emas Maslina: Menenun Warisan Bangka Bersama PT TIMAH - Mediaqu.id
PT Timah Tbk

Benang Emas Maslina: Menenun Warisan Bangka Bersama PT TIMAH

PANGKALPINANG — Di tengah deru zaman yang kian modern, suara denting alat tenun di rumah Maslina Yazid masih terdengar pelan tapi pasti.

Tangannya yang cekatan menuntun benang sutra dan emas, membentuk motif-motif indah khas Bangka. Bagi Maslina, kain cual bukan sekadar karya, melainkan warisan budaya yang sarat makna dan doa.

Sudah lebih dari dua puluh tahun perempuan ini setia menenun cual, kain kebanggaan masyarakat Bangka Belitung.

Bersama PT TIMAH Tbk, Maslina berjuang melestarikan tenun tradisional ini melalui pelatihan, promosi, hingga pameran di berbagai daerah.

Dukungan itu pula yang membuat tenun cual Bangka terus dikenal hingga ke tingkat nasional.

“Cual itu dari kata celupan awal, benang putih yang dicelup pertama kali sebelum ditenun. Setiap motif punya makna dan filosofi tersendiri,” tuturnya sambil tersenyum.

Ada motif kembang kenanga yang melambangkan ketulusan, balok timah yang menggambarkan jati diri Bangka, hingga kembang sepatu yang berarti semangat hidup. Beberapa di antaranya bahkan telah mengantongi hak paten.

Namun di balik keindahannya, tenun cual menuntut kesabaran luar biasa. Untuk satu lembar kain saja, Maslina bisa menghabiskan waktu dua minggu hingga satu tahun tergantung tingkat kerumitan.

Baca juga  PT Timah Perkuat Budaya Perusahaan Lewat Onboarding Sessions Tins Agent 2025

Karena itu, harga selembar cual bisa mencapai ratusan juta rupiah. Ia bahkan memiliki koleksi cual kuno yang nilainya tak ternilai.

Tak berhenti di ruang tenunnya, Maslina kini aktif berkeliling ke sekolah dan kampus, mengenalkan seni menenun cual pada generasi muda.

“Banyak yang tertarik belajar, tapi belum banyak yang mau menekuni. Padahal kalau ditekuni, hasilnya membanggakan seperti profesi lainnya,” katanya.

Bagi Maslina, peran PT TIMAH Tbk amat penting dalam menjaga nyala tradisi ini. Sejak 1990, perusahaan tersebut tak hanya membantu modal, tetapi juga membuka akses pelatihan, pemasaran, dan promosi produk para penenun lokal.

“Setiap pameran yang difasilitasi PT TIMAH, produk kami selalu laku. Kami bangga punya bapak angkat seperti PT TIMAH yang peduli pada budaya Bangka,” ujarnya.

Kini, di setiap helai tenun yang keluar dari alat tenunnya, Maslina tak hanya menenun benang, tapi juga merajut harapan: agar cual Bangka tetap hidup, dikenakan dengan bangga, dan diwariskan lintas generasi. (*)

Sumber : www.timah.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!