Kolaborasi Lintas Sektor Percepat Penurunan Stunting di Pangkalpinang
PANGKALPINANG, MEDIAQU.id — Upaya penanganan stunting di Kota Pangkalpinang mulai menunjukkan hasil positif. Dalam dua tahun terakhir, angka prevalensi stunting mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2024, prevalensi stunting di Pangkalpinang tercatat sebesar 20,6 persen. Angka tersebut kemudian menurun pada 2025 menjadi 17,3 persen, merujuk pada data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM). Dari data tersebut, tercatat sebanyak 221 balita masih mengalami kondisi stunting.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPPPAKB) Kota Pangkalpinang, Agustu Efendi, menjelaskan bahwa tren penurunan ini merupakan hasil dari berbagai intervensi yang dilakukan secara konsisten oleh pemerintah daerah.
Menurutnya, terdapat dua pendekatan utama yang diterapkan dalam menekan angka stunting, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Kedua strategi ini dijalankan secara bersamaan agar penanganan dapat lebih komprehensif.
Intervensi spesifik difokuskan pada pemenuhan kebutuhan gizi bagi kelompok sasaran, seperti ibu hamil, ibu menyusui, ibu pasca melahirkan, bayi di bawah dua tahun (baduta), hingga balita. Program ini dijalankan melalui pemberian makanan tambahan dan suplemen gizi.
“Bantuan diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari susu, telur, pangan olahan bergizi, hingga tablet tambah darah dan vitamin,” ujar Agustu kepada Mediaqu.id, Senin (30/3/2026).
Ia menambahkan, pelaksanaan intervensi tersebut melibatkan Dinas Kesehatan serta jaringan puskesmas yang tersebar di wilayah Pangkalpinang. Dengan demikian, distribusi bantuan dapat lebih tepat sasaran dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Sementara itu, intervensi sensitif lebih menitikberatkan pada perbaikan faktor lingkungan dan kondisi sosial ekonomi keluarga. Program ini mencakup penyediaan akses air bersih, pembangunan sumur bor, perbaikan rumah tidak layak huni, penyediaan jamban sehat, serta peningkatan sanitasi lingkungan.
Agustu menilai, kedua intervensi tersebut saling melengkapi dalam menekan risiko stunting. Tidak hanya memperbaiki asupan gizi, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Di sisi lain, peran kepemimpinan daerah juga dinilai menjadi faktor penting dalam percepatan penanganan stunting. Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin, terus mendorong keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk sektor swasta dan badan usaha milik negara (BUMN).
“Penanganan stunting tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor agar hasilnya lebih maksimal,” jelasnya.
Bentuk sinergi tersebut salah satunya terlihat dari kerja sama antara PT PLN dan Tim Penggerak PKK Kota Pangkalpinang. Melalui kolaborasi ini, bantuan berupa sembako, susu, dan telur disalurkan kepada keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.
Program kolaboratif ini diharapkan dapat memperkuat upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting secara berkelanjutan. Selain itu, keterlibatan berbagai pihak juga menjadi kunci dalam menciptakan kesadaran bersama akan pentingnya pencegahan stunting sejak dini.
Pemerintah Kota Pangkalpinang optimistis, dengan strategi yang terarah dan dukungan berbagai pihak, angka stunting dapat terus ditekan.
“Harapannya, generasi mendatang dapat tumbuh lebih sehat, cerdas, dan memiliki daya saing yang lebih baik di masa depan,” pungkas Agustu. (Suf)




