Parenting SMP Muhammadiyah Pangkalpinang, Orang Tua Diajak Pahami Bakat dan Potensi Anak

PANGKALPINANG, MEDIAQU.ID — Setiap orang tua tentu ingin anaknya memiliki masa depan yang baik. Namun, keinginan tersebut terkadang membuat orang tua tanpa sadar menentukan jalan pendidikan anak sesuai dengan cita-cita mereka sendiri.
Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Pangkalpinang, Sopian, M.Pd., mengingatkan para orang tua agar tidak menjadikan anak sebagai tempat untuk mewujudkan cita-cita yang dahulu belum tercapai.
Menurut Sopian, anak memiliki bakat, minat dan potensi yang berbeda sehingga pilihan pendidikan seharusnya disesuaikan dengan kemampuan dan karakter masing-masing.
Pesan tersebut disampaikan Sopian saat membuka kegiatan parenting bersama Ganesha Education Care (GEC) di Aula SMP Muhammadiyah Pangkalpinang, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan itu menghadirkan Prof. Bambang Harijanto, psikolog sekaligus konsultan pendidikan, serta Susi Lidyawati, S.Si., M.Pd., Pimpinan Bimbingan Belajar Ganesha Education Care Pangkalpinang.
Sopian mengatakan, jenjang SMP merupakan masa penting bagi orang tua untuk mulai mengenali arah pendidikan anak.
Sebab, keputusan memilih sekolah lanjutan nantinya akan berpengaruh terhadap proses pendidikan dan pengembangan potensi anak.
“Kadang ada cita-cita kita yang belum tercapai, sehingga kita memaksakan anak harus memilih itu. Saya mungkin termasuk juga,” ujar Sopian.
Menurutnya, orang tua perlu mengubah pola pikir dalam mendampingi anak.
Bukan lagi sekadar menentukan anak harus masuk sekolah mana, tetapi membantu anak menemukan bidang yang sesuai dengan bakat dan potensinya.
“Insyaallah akan menjadi pola pikir bertumbuh atau growth mindset. Kita tidak bisa memaksakan kehendak untuk menyekolahkan anak ke mana, tetapi harus diarahkan sesuai bakat dan potensinya,” katanya.
Orang Tua Perlu Belajar Memahami Potensi Anak
Sopian berharap kegiatan parenting tersebut tidak hanya menjadi agenda sekolah, tetapi benar-benar memberikan perspektif baru kepada orang tua.
Ia menilai perkembangan anak membutuhkan komunikasi antara sekolah dan keluarga.
Orang tua, kata dia, perlu mengetahui kemampuan anak sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk berkembang.
Dengan begitu, pilihan melanjutkan pendidikan ke SMA, SMK, MA maupun sekolah kedinasan dapat dipertimbangkan secara lebih matang.
Jumlah Siswa Menurun Setelah Pandemi
Di sisi lain, Sopian juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi SMP Muhammadiyah Pangkalpinang setelah pandemi Covid-19.
Ia menyebut jumlah peserta didik yang sebelumnya berada di kisaran 300 hingga 400 siswa mengalami penurunan.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat pihak sekolah berhenti melakukan pembenahan.
Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah program kelas digital.
Sopian mengatakan perkembangan teknologi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari sehingga peserta didik harus dipersiapkan untuk menghadapi perubahan zaman.
“Teknologi ini tidak mungkin kita hindari. Karena itu, anak-anak harus kita siapkan agar mampu menghadapi perkembangan zaman,” ujarnya.
Sekolah Ajak Orang Tua Ikut Terlibat
Kegiatan parenting tersebut juga dirangkaikan dengan rapat komite dan pembagian hasil penilaian sumatif tengah semester.
Sopian mengajak orang tua ikut terlibat dalam pengembangan sekolah.
Ia menegaskan SMP Muhammadiyah Pangkalpinang merupakan sekolah yang didirikan oleh masyarakat sehingga pengembangannya membutuhkan dukungan bersama.
“Jangan pikir sekolah ini milik siapa, tapi milik kita semua. Kami hanya pelaksana yang mendampingi anak-anak kita supaya menjadi anak-anak yang berguna bagi nusa dan bangsa, terutama bagi orang tua,” tuturnya.
Menurut Sopian, keberhasilan siswa menjadi kebanggaan terbesar bagi seorang guru.
“Tidak ada kebanggaan lain dari kami para guru. Kami hanya bangga kalau anak yang kami didik menjadi orang yang membanggakan orang tua,” ujarnya.
Belajar Tak Harus Selalu di Dalam Kelas
SMP Muhammadiyah Pangkalpinang juga menyiapkan program School Sister yang akan membawa peserta didik ke Lampung.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman belajar melalui kolaborasi dengan sekolah lain.
Sopian menilai proses belajar tidak harus selalu dilakukan di dalam ruang kelas.
“Belajar sekarang tidak mesti dari satu buku, satu ruangan yang sama, satu sekolah yang sama. Kita bisa melibatkan sekolah lain dan guru yang lain. Belajar bisa di mana saja, yang jelas ilmunya harus kita ambil,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, SMP Muhammadiyah Pangkalpinang berharap orang tua semakin memahami bahwa pendidikan anak bukan sekadar memilih sekolah, tetapi juga membantu anak menemukan jalan terbaik sesuai kemampuan dan potensinya.
Bagi sekolah, kolaborasi antara guru, orang tua dan anak menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman. (Suf)



