
“Jika dibiarkan, ini akan menurunkan pendapatan daerah dan memengaruhi APBD secara keseluruhan,” tambah Kurniadi.
Kurniadi menegaskan bahwa kepala daerah yang definitif dapat merumuskan kebijakan dengan jelas untuk sektor-sektor penting, seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
Dalam kondisi kotak kosong, proyek pembangunan yang memerlukan kepemimpinan dan pengawasan langsung bisa tertunda.
“Kepemimpinan tanpa arah jelas akan menurunkan kualitas pembangunan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Kurniadi.
Risiko lain adalah potensi meningkatnya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat sementara yang beroperasi tanpa pengawasan langsung. Situasi ini bisa memperbesar kemungkinan kerugian keuangan bagi daerah.
Kurniadi melihat sisi positif dari isu kotak kosong ini, yaitu meningkatnya kesadaran politik di kalangan masyarakat.
Kondisi ini bisa memotivasi masyarakat untuk lebih terlibat dalam proses demokrasi, yang dapat mendorong reformasi sistem pemilu agar lebih transparan.
Secara keseluruhan, ketiadaan kepala daerah definitif dapat menciptakan tantangan yang signifikan bagi pembangunan, stabilitas sosial, dan ekonomi daerah.
“Pilkada bukan hanya soal memilih, tapi juga memastikan daerah memiliki pemimpin yang jelas, sehingga dapat menjaga kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” tutup Kurniadi. (*)




