Lapangan Merdeka Toboali Mau Jadi Taman, Yapiter : Sepak Bola Mau Dihilangkan?
BANGKA SELATAN, MEDIAQU.id — Rencana alih fungsi Lapangan Merdeka Toboali menjadi taman kota menuai penolakan dari sejumlah tokoh masyarakat. Salah satunya disampaikan Yapiter, SH, M.Si, yang merupakan anggota Presidium Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan sekaligus mantan Sekretaris Umum PSSI Kabupaten Bangka Selatan periode 2003–2007.
Yapiter menilai Lapangan Merdeka memiliki nilai sejarah, sosial, dan kultural yang sangat kuat bagi masyarakat Toboali. Menurutnya, lapangan tersebut bukan sekadar ruang terbuka, melainkan bagian dari perjalanan sejarah masyarakat sejak sekitar tahun 1950-an.
“Lapangan ini telah menjadi ruang interaksi sosial masyarakat selama puluhan tahun. Di sinilah masyarakat berolahraga, menggelar turnamen sepak bola antar kampung, hingga melaksanakan berbagai kegiatan sosial,” ujar Yapiter dalam pernyataannya kepada Mediaqu.id, Minggu (8/3/2026).
Ia menjelaskan, sejak lama Lapangan Merdeka menjadi pusat berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari pertandingan sepak bola, permainan tradisional, hingga kegiatan baris-berbaris saat peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus.
Selain itu, lapangan tersebut juga sering menjadi titik kumpul masyarakat dalam kegiatan pawai karnaval maupun berbagai agenda sosial lainnya.
Menurut Yapiter, dari kawasan sekitar Lapangan Merdeka pula lahir berbagai klub sepak bola lokal yang menjadi cikal bakal perkembangan olahraga sepak bola di Toboali, seperti PS Seroja, MJS dari Kampung Padang, hingga klub dari Kampung Bukit seperti PJ.
Dari dinamika klub-klub tersebut kemudian lahir Persito Toboali, yang menjadi kebanggaan masyarakat Toboali dalam dunia sepak bola.
“Persito pernah mencatat sejarah sebagai juara II tingkat Pulau Bangka. Prestasi ini menjadi kebanggaan masyarakat saat itu,” katanya.
Sebagai bentuk penghormatan atas prestasi tersebut, masyarakat bahkan mendirikan patung bola di kawasan Simpang Kepo Toboali sebagai simbol sejarah dan kebanggaan sepak bola daerah.
Dalam perjalanannya, Persito juga beberapa kali menorehkan prestasi di berbagai turnamen sepak bola yang digelar di sejumlah daerah di Pulau Bangka, seperti di Sungailiat, Pangkalpinang, hingga Mentok.
Menurut Yapiter, seluruh catatan sejarah tersebut tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Lapangan Merdeka sebagai tempat tumbuhnya pembinaan sepak bola masyarakat sejak puluhan tahun lalu.
Karena itu, ia menilai kebijakan pembangunan seharusnya tidak hanya mempertimbangkan perubahan fisik kawasan, tetapi juga memperhatikan nilai sejarah, fungsi sosial, serta keberlanjutan ruang publik yang produktif bagi masyarakat.
Ia pun mengusulkan agar Lapangan Merdeka tetap dipertahankan sebagai lapangan sepak bola, namun dilakukan penataan dan peningkatan fasilitas agar lebih representatif.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain mempercantik kawasan lapangan, membangun pagar kawat di sekeliling lapangan, menyediakan sistem penerangan yang memadai agar dapat digunakan pada malam hari, serta menata fasilitas pendukung lainnya.
“Lapangan ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai pusat pembinaan sepak bola usia dini dan remaja. Dengan pembinaan yang terarah, bukan tidak mungkin akan lahir atlet-atlet sepak bola dari Toboali yang mampu berprestasi di tingkat lebih tinggi,” jelasnya.
Ia juga mengusulkan agar pengelolaan pembinaan sepak bola di lapangan tersebut dapat bekerja sama dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia sehingga fungsi lapangan tidak hanya sebagai ruang rekreasi masyarakat, tetapi juga menjadi pusat pembinaan olahraga daerah.
Di sisi lain, Yapiter mengingatkan bahwa perubahan fungsi lapangan menjadi taman kota perlu dipertimbangkan secara matang dari berbagai aspek sosial.
Menurutnya, ruang publik yang tidak memiliki aktivitas terarah berpotensi menimbulkan dinamika sosial yang kurang produktif.
“Jika tetap difungsikan sebagai sarana olahraga, lapangan ini justru akan menjadi ruang publik yang sehat, aktif, dan positif bagi generasi muda,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat mempertimbangkan kembali rencana alih fungsi tersebut dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan.
“Kami sebagai masyarakat merasa prihatin atas kebijakan alih fungsi Lapangan Merdeka menjadi taman kota tanpa adanya partisipasi masyarakat. Lapangan ini sebaiknya tetap dipertahankan sebagai sarana olahraga dan ruang sosial masyarakat,” tegasnya. (Suf)



