Obsesi Pencitraan dan Air Mata Buaya Sang Pemimpin

Foto Ilustrasi

DI SEBUAH negeri antah berantah, yang peta dunianya pun enggan mengakuinya, hiduplah seorang pemimpin yang uniknya melebihi unicorn berkumis. Namanya Baginda Bimbim, seorang raja yang lebih mencintai kilatan kamera daripada urusan negara. Obsesinya tunggal, “Pencitraan Sempurna”.

Setiap pagi, sebelum mentari sempat menyapa embun, Baginda Bimbim sudah bersiap dengan jubah kebesarannya yang selalu kinclong bak piring baru dicuci. Agenda hariannya bukan lagi tentang kebijakan publik, melainkan tentang bagaimana caranya terlihat paling dermawan, paling gotong royong, dan paling… pokoknya paling!

Kegemarannya memberikan santunan sudah menjadi legenda. Setiap kali ada warga yang batuk sedikit lebih keras dari biasanya, ajudan Baginda Bimbim akan langsung sigap menyerahkan amplop tebal berisi uang (yang entah dari mana asalnya). Acara santunan ini tidak pernah luput dari sorotan media kerajaan, dengan Baginda Bimbim memasang wajah prihatin yang sudah dilatih di depan cermin selama bertahun-tahun.

“Inilah bukti kepedulian hamba pada rakyat!” begitu pekiknya setiap kali kamera menyorot, air mata buaya (yang juga hasil latihan intensif) siap menetes di pipi. Rakyat, yang sebagian besar memang membutuhkan uluran tangan, tentu saja menyambut dengan sukacita. Namun, bisik-bisik mulai terdengar di balik senyum terima kasih mereka. “Kok sering banget ya ada warga sakit mendadak?”

Kegilaan Baginda Bimbim pada gotong royong juga tak kalah heboh. Setiap kali ada pohon tumbang (yang entah kenapa frekuensinya meningkat drastis), Baginda Bimbim akan turun langsung dengan memanggul ujung batang pohon yang paling ringan. Foto-foto heroiknya, dengan keringat palsu membasahi pelipis, akan menghiasi seluruh media kerajaan keesokan harinya.

“Lihatlah! Pemimpin kita begitu dekat dengan rakyat! Tak segan mengangkat beban!” narasi yang selalu digaungkan para penjilat istana. Rakyat lagi-lagi terkesima, meskipun beberapa di antara mereka bertanya-tanya, “Kenapa pohon tumbangnya selalu di jalur yang dilewati rombongan raja ya?”

Namun, puncak dari drama pencitraan Baginda Bimbim adalah ketika ia memutuskan untuk membangun “Jembatan Persatuan” antar desa yang terpisah oleh sungai kecil selebar selokan.

Dengan gegap gempita, peletakan batu pertama dilakukan dengan Baginda Bimbim mengenakan helm proyek yang lebih mengkilap dari mahkotanya. Pidatonya penuh janji manis tentang persatuan dan kemajuan.

“Jembatan ini akan menjadi simbol kebersamaan kita! Rakyat dari kedua desa akan bisa saling mengunjungi, bertukar senyum, dan mungkin… berhutang!” ujarnya dengan senyum penuh arti.

Proyek jembatan ini menjadi tontonan rakyat setiap hari. Mereka melihat Baginda Bimbim sesekali datang meninjau, memberikan semangat kepada para pekerja (yang sebagian besar adalah kerabat jauh para penjilat istana), dan tentu saja, berpose untuk media dengan berbagai gaya konstruksi.

Setelah berbulan-bulan lamanya (yang terasa seperti berabad-abad bagi rakyat yang ingin menyeberang sungai), Jembatan Persatuan akhirnya “selesai”. Peresmiannya pun tak kalah meriah. Baginda Bimbim datang dengan kereta kencana yang ditarik oleh… enam ekor keledai yang dihias sedemikian rupa hingga menyerupai kuda.

Dengan gunting emas di tangan, Baginda Bimbim memotong pita yang terbuat dari janur kuning (yang entah kenapa sudah agak layu). Sorak sorai rakyat membahana. Inilah bukti nyata kepedulian dan kerja keras pemimpin mereka!

Baca juga  DPPP Basel Terbitkan 166 Rekomendasi BBM Bagi Nelayan

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ketika rakyat mulai memberanikan diri melintasi jembatan megah itu, kejanggalan demi kejanggalan mulai terungkap.

Pertama, jembatan itu ternyata hanya memiliki lebar satu meter. Cukup untuk satu orang berjalan kaki, itupun harus sambil merapatkan diri agar tidak tercebur ke sungai kecil di bawahnya. Kedua, bahan baku jembatan itu ternyata sebagian besar terbuat dari bambu yang dicat menyerupai beton.

Ketiga, dan yang paling mengejutkan, jembatan itu ternyata tidak menghubungkan kedua desa sama sekali! Ujung jembatan di kedua sisi berakhir beberapa meter dari tepian sungai, memaksa rakyat untuk melompat turun dan naik dengan susah payah.

Kebohongan Baginda Bimbim akhirnya terbongkar. Amplop santunan yang selama ini dibagikan ternyata berisi uang palsu bergambar wajah Baginda Bimbim sendiri. Pohon-pohon tumbang yang selalu “kebetulan” terjadi ternyata sengaja ditebang oleh para ajudan atas perintah raja.

Dan Jembatan Persatuan yang megah itu hanyalah ilusi, sebuah proyek pencitraan yang menghabiskan banyak anggaran kerajaan untuk sesuatu yang nyaris tidak berguna.

Tak kuat menghadapi hujan hujatan, Baginda Bimbim akhirnya menggelar konferensi pers di Balairung Pencitraan. Panggungnya megah, ada kabut buatan, dan back sound instrumental Titanic. Ia berdiri sambil memegang mikrofon emas (yang ternyata plastik) dan berkata dengan penuh dramatisasi.

“Saya tidak pernah bermaksud membohongi rakyat… saya hanya ingin tampil menginspirasi.”

Seorang wartawan nyeletuk, “Tapi Pak, rakyat butuh kebenaran, bukan inspirasi palsu.”

Baginda Bimbim tersenyum lembut, seperti tokoh utama sinetron pukul 6 sore.

“Kalau tidak direkam, siapa yang tahu saya bekerja? Bukankah kerja keras juga perlu dokumentasi?”

Suasana hening. Lalu salah satu wartawan tertawa. Disusul yang lain. Akhirnya seluruh ruangan tertawa sampai kameraman pun goyang.

Besoknya, berita utama bukan soal pengakuan Baginda Bimbim, tapi judul besar di koran negeri itu “Negei atau Sinetron, Baginda Bimbim Bingung Perannya!”

Rakyat yang selama ini terpesona oleh drama pencitraan Baginda Bimbim akhirnya sadar. Mereka merasa dibohongi dan dipermainkan. Kemarahan pun tak terhindarkan. Demonstrasi besar-besaran terjadi di depan istana, menuntut pertanggungjawaban sang raja.

Baginda Bimbim, yang panik melihat popularitasnya anjlok drastis, mencoba melakukan pencitraan terakhir. Ia keluar dari istana dengan mengenakan pakaian lusuh dan wajah memelas.

“Hamba… hamba khilaf! Hamba hanya ingin rakyat bahagia!” ujarnya dengan suara bergetar (yang juga hasil latihan).

Namun, kali ini rakyat tidak tertipu. Mereka sudah muak dengan segala kepalsuan. Akhirnya, dengan berat hati (dan setelah berunding alot dengan para penasihat istana yang juga takut kehilangan jabatan).

Dan rakyat pun belajar satu pelajaran penting, jangan pernah tertipu oleh pencitraan semata, karena kebohongan, seindah apapun bungkusnya, pasti akan terbongkar pada akhirnya. Terutama jika jembatan persatuanmu tidak sampai ke seberang. (Yusuf)

Catatan:
Artikel ini hanyalah guyonan semata, dibuat untuk hiburan dengan gaya satire dan humor ringan. Tokoh, tempat, dan kejadian dalam cerita ini fiktif dan tidak ditujukan untuk menyerang pihak mana pun.

Mohon maaf apabila ada kesamaan nama atau situasi yang dianggap sensitif. Semoga bisa diambil sisi lucunya saja, bukan baper-nya. 😄✌️

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *