PANGKALPINANG – Di sebuah sore yang teduh, H. Muhammad Sopian, atau yang akrab disapa Bang Sopian, duduk santai sambil mengenang perjalanan panjangnya sebagai Wakil Wali Kota Pangkalpinang selama dua periode. Wajahnya tampak tenang, namun matanya berbinar ketika berbicara tentang salah satu sosok calon pemimpin kota yang kini tengah banyak diperbincangkan: Prof. Saparudin, atau Prof. Udin.
“Santun, tenang, dan bersahabat. Tiga kata itu saya rasa sudah cukup untuk menggambarkan siapa beliau,” ujar Bang Sopian, mantap.
Warisan Budaya Melayu dalam Kesantunan
Bagi masyarakat Pangkalpinang, nama Bang Sopian bukanlah sosok asing. Dua periode mendampingi wali kota berbeda, membuatnya paham betul tentang lika-liku kepemimpinan. Maka, ketika ia menyebut “santun” sebagai karakter pertama yang melekat pada Prof. Udin, kata itu terasa bukan sekadar pujian.
“Kesantunan adalah bagian dari budaya Melayu. Tutur kata yang halus, sikap yang sopan, itu ciri khas masyarakat Bangka Belitung. Saya melihat hal itu ada pada Prof. Udin,” katanya.
Santun di mata Bang Sopian bukan hanya soal basa-basi, tapi tentang bagaimana seorang pemimpin menghadirkan keteduhan di tengah masyarakatnya.
Keteguhan dalam Ketentraman
Karakter kedua yang disebut adalah tenang. Dalam dunia politik yang penuh riak dan kadang disertai isu miring, ketenangan adalah aset mahal.
“Saya lihat beliau tidak mudah terpancing. Saat ada isu atau serangan, beliau tetap fokus menyampaikan visi misi. Itu bukti kematangan. Budaya timur memang lebih mengutamakan kebijaksanaan daripada emosional,” ucapnya.
Tenang bukan berarti pasif, melainkan bijak dalam mengambil langkah. Dan itulah yang diyakini Bang Sopian sebagai salah satu modal besar Prof. Udin.



