Headline

Langkah Hening Prof Udin Mengenang Cinta dan Pengorbanan Orang Tua

PANGKALPINANG, MEDIAQU.ID – Di sebuah sudut Tempat Pemakaman Umum Jalan Mentok, tampak sosok Saparudin atau yang akrab disapa Prof Udin, berdiri khidmat di hadapan pusara orang tuanya, Jumat (29/8/2025).

Mengenakan pakaian sederhana, ia menundukkan kepala, kedua tangan terangkat, bibirnya bergetar melafalkan doa. Di sampingnya, sang istri dan ketiga anaknya turut memanjatkan doa, taburan bunga perlahan menghiasi makam.

Suasana haru terasa begitu kental. Sesekali terlihat mata salah satu anaknya berkaca-kaca, menandakan betapa momen itu bukan sekadar ritual, melainkan perwujudan rasa bakti dan rindu pada sosok yang telah berjasa membentuk perjalanan hidup keluarga ini.

“Ini adalah tradisi keluarga kami. Ziarah menjadi pengingat agar setiap perjuangan dan pencapaian senantiasa disandarkan pada doa, dan restu orang tua,” ucap Prof Udin perlahan, suaranya tenang namun sarat makna. ”

Usai berziarah di TPU Jalan Mentok, rombongan keluarga kecil itu melanjutkan perjalanan ke Tuatunu. Di sana, Prof Udin kembali menundukkan kepala di hadapan makam kakak kandungnya.

Doa-doa lirih dipanjatkan, seolah membawa kembali kenangan akan sosok kakak yang selalu mendukungnya dalam setiap langkah hidup.

Bagi Prof Udin, ziarah bukanlah sekadar rutinitas tahunan atau seremonial belaka. Tradisi ini telah menjadi bagian dari nilai hidupnya: menghormati leluhur, mengenang jasa orang tua, dan menanamkan nilai keikhlasan kepada anak-anaknya.

Baca juga  Listrik di Bangka Selatan Mati Bergilir 10 Hari Kedepan

“Kami ingin anak-anak juga belajar bahwa apa pun yang kita capai, tidak lepas dari doa orang tua. Kita harus selalu rendah hati,” tambahnya.

Momen ziarah ini datang tepat setelah Prof Udin melewati masa penuh dinamika dalam Pemilihan Kepala Daerah Ulang Pangkalpinang 2025.

Di tengah hiruk pikuk politik dan proses panjang yang dijalani, ia memilih kembali ke akar ke pusara orang tua dan saudaranya untuk menenangkan hati, menguatkan niat, dan mencari keteduhan batin.

Bagi Prof Udin, ziarah menjadi jeda spiritual yang menyatukan kembali langkahnya dengan doa keluarga dan restu mereka yang telah tiada.

Di bawah langit Pangkalpinang yang cerah, keluarga kecil itu berjalan meninggalkan area pemakaman dengan langkah tenang.

Ziarah hari itu bukan sekadar mengenang mereka yang telah berpulang, tetapi juga menjadi penanda betapa perjalanan hidup seorang Prof Udin tak pernah lepas dari doa keluarga, cinta orang tua, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu. (Suf)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!