Gedung Bupati Pertama Dirobohkan, Ingatan Sejarah Bangka Selatan Ikut Hilang
Wawancara Khusus
Jurnalis:
Menurut Anda, apa yang semestinya dilakukan sebelum perobohan gedung itu terjadi?
Yapiter:
Minimal dilakukan dialog publik, kajian sejarah, dan musyawarah dengan para pelaku sejarah. Gedung tersebut sebenarnya bisa dialihfungsikan menjadi museum kecil perjuangan pembentukan Kabupaten Bangka Selatan, atau setidaknya diberi penanda resmi sebagai situs bersejarah. Sayangnya, langkah-langkah itu tidak dilakukan.
Jurnalis:
Sebagai pelaku sejarah, apa kekhawatiran terbesar Anda saat ini?
Yapiter:
Saya khawatir Bangka Selatan tumbuh tanpa mengenal asal-usulnya sendiri. Daerah yang kehilangan ingatan sejarah akan mudah kehilangan arah. Pembangunan memang penting, tetapi sejarah tidak boleh diratakan atas nama kemajuan.
Jurnalis:
Mengapa bukti fisik seperti gedung kantor bupati pertama begitu penting bagi generasi mendatang?
Yapiter:
Karena sejarah tidak cukup diwariskan lewat cerita lisan atau dokumen arsip. Generasi masa depan membutuhkan ruang publik yang bisa mereka lihat, datangi, dan rasakan langsung. Bukti fisik memberi pengalaman nyata bahwa Bangka Selatan lahir dari perjuangan, bukan hadiah yang datang begitu saja.
Jurnalis:
Apa pesan moral yang ingin Anda sampaikan pada momentum refleksi 23 tahun Bangka Selatan?
Yapiter:
Pesan saya tegas dan sederhana, pembangunan tidak boleh memutus ingatan. Kita boleh membangun gedung baru, tetapi jangan menghapus bukti perjuangan masa lalu. Jika hari ini kita abai, maka 50 atau 100 tahun ke depan anak cucu kita akan bertanya di mana bukti bahwa Bangka Selatan pernah diperjuangkan? (Suf)




