Headline

Kompos FABA Lapas Pangkalpinang Langsung Diuji di Kebun Sawit Belitung

TANJUNGPANDAN – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang mulai menguji efektivitas kompos berbahan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) di kebun kelapa sawit binaan Lapas Kelas IIB Tanjungpandan, Desa Cerucuk, Kabupaten Belitung, Kamis (17/7/2026).

Uji coba dilakukan pada 10 pohon sawit untuk menilai kinerja kompos sebagai alternatif pupuk yang lebih ekonomis sekaligus mendukung pembinaan kemandirian warga binaan.

Demplot tersebut merupakan tindak lanjut pelatihan pembuatan kompos FABA yang sebelumnya diikuti warga binaan Lapas Tanjungpandan dan klien Balai Pemasyarakatan (Bapas) Tanjungpandan.

Melalui kegiatan itu, Lapas Pangkalpinang mereplikasi inovasi yang telah dikembangkan agar dapat diterapkan di satuan pemasyarakatan lain.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kepulauan Bangka Belitung, Ade Agustina, bersama Kepala Lapas Tanjungpandan Royhan Al Faisal dan Kepala Bapas Tanjungpandan Muhamad Irfani, ikut memperagakan aplikasi kompos pada tanaman sawit.

Demonstrasi itu menjadi bagian dari pengenalan teknik penggunaan kompos sekaligus awal pengamatan terhadap dampaknya terhadap pertumbuhan tanaman.

Kepala Lapas Pangkalpinang Sugeng Indrawan mengatakan uji lapangan diperlukan untuk memastikan kualitas kompos FABA yang dikembangkan pihaknya mampu memberikan hasil pada tanaman sawit di Belitung.

“Melalui demplot ini kami ingin membuktikan kualitas kompos FABA hasil inovasi Lapas Pangkalpinang. Harapannya, inovasi ini dapat direplikasi guna mendukung pembinaan kemandirian warga binaan,” kata Sugeng.

Menurut Ade Agustina, pemanfaatan limbah FABA menjadi kompos tidak hanya berorientasi pada pembinaan keterampilan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan konsep ekonomi sirkular.

Baca juga  Pelabuhan Sadai Amblas Bikin Logistik Belitung Tersendat, DPRD Babel Siapkan Langkah Cepat

Ia menilai kolaborasi antara Lapas dan Bapas menjadi contoh pengembangan program pembinaan yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.

“Diharapkan pemanfaatan kompos FABA dapat memperkuat pembinaan kemandirian, mendukung ketahanan pangan dan ekonomi sirkular, serta memperkuat citra pemasyarakatan yang produktif,” ujarnya.

Royhan Al Faisal menilai praktik langsung di lapangan menjadi tahapan penting setelah pelatihan.

Menurut dia, pengalaman tersebut memberi kesempatan bagi peserta untuk memahami penerapan kompos FABA sebelum dikembangkan lebih luas.

Hasil pengamatan terhadap 10 pohon kelapa sawit akan menjadi bahan evaluasi bagi pengembangan kompos FABA pada komoditas pertanian lainnya.

Jika menunjukkan hasil yang baik, inovasi itu berpeluang diterapkan lebih luas sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian warga binaan di lingkungan pemasyarakatan Bangka Belitung. (Suf)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!