Tugu Nanas Rp 796 Juta Kebanggaan Bangka Selatan Ditelan Kegelapan
Keluhan serupa juga dilontarkan oleh Hairul, warga lainnya yang merasa miris dengan kondisi Tugu Nanas. Menurutnya, pemerintah daerah seharusnya lebih peka terhadap aset-aset yang telah dibangun dengan uang rakyat.
“Pemeliharaan rutin seharusnya menjadi prioritas agar investasi yang telah dikeluarkan tidak menjadi sia-sia. Seharusnya, pemerintah daerah itu harus perhatikan hal-hal yang sudah ada dan salah satunya Tugu Nanas,” keluhnya.
Pernyataan Hairul ini menyiratkan kekecewaan mendalam terhadap kinerja pemerintah daerah yang dinilai kurang responsif terhadap persoalan yang terlihat jelas di depan mata.
Tidak hanya soal lampu yang mati, Hairul juga menyoroti kondisi kolam dan air mancur di sekitar Tugu Nanas yang tampak tidak terawat.
“Cobalah dirawat juga air dalam kolam, ini air kolam dan air mancurnya. Ini tidak, malah dibiarkan sama sekali tidak dirawat,” cetusnya dengan nada geram.
Kolam dan air mancur yang seharusnya menambah estetika Tugu Nanas kini justru terlihat kumuh dan terbengkalai, semakin menambah kesan negatif terhadap pengelolaan aset daerah.
Kondisi Tugu Nanas yang gelap dan tidak terawat ini jelas menjadi tamparan keras bagi citra Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan.
Bagaimana mungkin sebuah ikon yang dibangun dengan anggaran besar dibiarkan merana tanpa perawatan yang memadai?
Pertanyaan ini tentu menggelayuti benak banyak warga. Apakah anggaran ratusan juta rupiah tersebut hanya sekadar untuk pembangunan fisik tanpa ada alokasi yang jelas untuk pemeliharaan jangka panjang? (Suf)




