NEW YORK — Tahun 1887 menjadi titik balik dalam sejarah jurnalisme dunia. Di tahun itu, seorang reporter perempuan bernama Nellie Bly melakukan sesuatu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, berpura-pura mengalami gangguan jiwa demi membongkar kekejaman di balik tembok rumah sakit jiwa. Aksi nekat itu bukan sekadar liputan, melainkan revolusi cara kerja pers.
Nellie Bly, nama pena dari Elizabeth Jane Cochran, bergabung dengan harian New York World milik Joseph Pulitzer saat jurnalisme Amerika masih didominasi laki-laki. Perempuan kala itu umumnya ditempatkan di rubrik domestik seperti mode atau rumah tangga. Bly menolak batasan tersebut.
Dengan dukungan redaksi, Bly berpura-pura mengalami gangguan mental agar bisa dimasukkan ke Suaka Perempuan Blackwell’s Island, New York. Setelah melewati pemeriksaan medis yang minim dan bias, ia resmi menjadi “pasien” rumah sakit jiwa tersebut.
Selama 10 hari, Bly hidup bersama para pasien. Yang ia temukan mengejutkan publik Amerika. Pasien diperlakukan secara tidak manusiawi, dipaksa mandi air dingin, diberi makanan basi, mengalami kekerasan verbal hingga fisik, serta diabaikan secara medis. Banyak di antara mereka sejatinya tidak mengalami gangguan jiwa.
Setelah dibebaskan, Bly menuliskan laporannya secara rinci dan tajam. Seri liputan itu kemudian dibukukan dengan judul “Ten Days in a Mad-House”. Publik bereaksi keras. Pemerintah turun tangan. Penyelidikan resmi dilakukan. Anggaran kesehatan mental ditingkatkan, dan sistem perawatan pasien jiwa mulai dibenahi.
Liputan tersebut mengukuhkan Nellie Bly sebagai ikon jurnalisme investigatif modern. Ia membuktikan bahwa jurnalisme bukan sekadar menulis pernyataan resmi, melainkan menghadirkan fakta dari lapangan bahkan jika harus mempertaruhkan keselamatan diri.
Tak berhenti di situ, pada 1889 Bly kembali membuat sensasi. Terinspirasi novel Around the World in Eighty Days karya Jules Verne, ia melakukan perjalanan keliling dunia seorang diri. Hasilnya, Bly menyelesaikan perjalanan tersebut dalam 72 hari, memecahkan rekor dan menantang norma sosial terhadap perempuan pada zamannya.
Perjalanan itu diliput harian New York World dan memperkuat posisi Bly sebagai jurnalis dengan jangkauan global. Bukunya, Around the World in Seventy-Two Days, menjadi best seller dan simbol keberanian perempuan dalam dunia pers.
Dalam perjalanan hidupnya, Nellie Bly juga sempat meninggalkan dunia jurnalistik setelah menikah. Namun ia kembali menulis, termasuk meliput Perang Dunia I dari Eropa Timur, sesuatu yang jarang dilakukan jurnalis perempuan saat itu.
Nellie Bly wafat pada 27 Januari 1922 di New York. Meski telah tiada, warisannya hidup. Metode liputan investigatif berbasis penyamaran, keberpihakan pada kelompok rentan, serta keberanian menantang kekuasaan, menjadi fondasi jurnalisme modern.
Di era ketika kebenaran kerap dipoles, kisah Nellie Bly menjadi pengingat jurnalisme sejati menuntut keberanian, integritas, dan empati.
Sumber : id.celeb-true.com




