Kundur Punya Batik Sendiri! Karya Keren Ini Lahir Berkat Sentuhan PT TIMAH
KUNDUR – PT TIMAH Tbk terus menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis potensi lokal. Tak hanya fokus pada aktivitas pertambangan, perusahaan juga mendorong lahirnya pelaku usaha baru yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan budaya daerah.
Salah satu langkah nyata itu diwujudkan melalui pendampingan Rumah Batik Kundur, kelompok usaha binaan PT TIMAH yang kini tengah mengembangkan batik khas daerah sebagai identitas budaya Pulau Kundur, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.
Komitmen tersebut mendapat perhatian langsung dari Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PT TIMAH Tbk, Ratih Mayasari, yang mengunjungi Rumah Batik Kundur dan berdialog dengan para pengrajin yang sedang mengembangkan motif-motif khas daerah.
Ratih menilai kehadiran Rumah Batik Kundur menjadi bukti bahwa sektor pertambangan juga dapat berkontribusi dalam menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Ini membuktikan bahwa perusahaan tambang hadir bukan hanya mengelola sumber daya alam, tetapi juga ikut membangun peradaban dan memberdayakan masyarakat,” ujar Ratih.
Menurutnya, pengembangan UMKM batik tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Kundur. Selain membuka lapangan kerja, keberadaan batik khas daerah juga dapat memperkuat identitas budaya lokal.
PT TIMAH, kata Ratih, akan terus mendampingi para pengrajin agar Batik Kundur mampu berkembang menjadi produk unggulan yang dikenal luas dan memiliki daya saing.
“Harapannya, lahir pengrajin batik khas Kundur yang kuat, mandiri, dan mampu menjadi pilar ekonomi baru bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, anggota Rumah Batik Kundur, Farhida Hanum, mengaku bangga menjadi bagian dari kelompok binaan PT TIMAH. Ia menceritakan, perjalanan Rumah Batik Kundur dimulai dari proses yang sangat sederhana.
Farhida mengatakan, para anggota telah mendapatkan berbagai pelatihan membatik yang difasilitasi PT TIMAH. Bekal tersebut menjadi modal penting untuk mulai menciptakan motif-motif khas yang merepresentasikan identitas Pulau Kundur.
Motif yang dikembangkan pun mengambil inspirasi dari kekayaan lokal, seperti siput khas yang menjadi bahan makanan tradisional lendot, dedaunan dan bunga lokal, hingga bentuk geografis Pulau Kundur.
Saat ini, Rumah Batik Kundur fokus mengembangkan batik ecoprint, yakni teknik membatik menggunakan dedaunan yang tumbuh di lingkungan sekitar sebagai bahan utama pembentuk motif alami.
Meski masih menghadapi berbagai tantangan dalam memahami karakter bahan dan teknik produksi, semangat para pengrajin untuk terus belajar tidak pernah surut.
“Kami ingin Kundur memiliki identitas batiknya sendiri. Semoga ke depan kami bisa menjadi pembatik profesional dan menghasilkan produk yang dikenal lebih luas,” harap Farhida.
Melalui pendampingan berkelanjutan yang dilakukan PT TIMAH, Rumah Batik Kundur diharapkan tidak hanya menjadi wadah pelestarian budaya, tetapi juga mampu tumbuh sebagai kekuatan baru ekonomi kreatif yang membanggakan masyarakat setempat. (*)
Sumber : www.timah.com




