Pangkalpinang

Program Ketahanan Pangan Lapas Pangkalpinang Hadirkan Budidaya Pare Vertikultur

PANGKALPINANG — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang mengembangkan budidaya pare dengan sistem vertikultur sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian warga binaan. Budidaya dilakukan di lahan seluas 25 meter persegi di area Gedung Kegiatan Kerja, Senin (20/7/2026).

Sistem vertikultur dipilih karena dinilai mampu mengoptimalkan lahan yang terbatas. Tanaman pare dirambatkan menggunakan tali penyangga agar pertumbuhannya lebih baik sekaligus memudahkan perawatan. Saat ini, kebun tersebut dikelola oleh dua warga binaan.

Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Pangkalpinang Mulsa Afrianto mengatakan tanaman pare yang dibudidayakan telah berusia sekitar 30 hari.

Menurut dia, program tersebut tidak hanya ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan, tetapi juga memberikan keterampilan pertanian kepada warga binaan.

“Melalui sistem vertikultur, kami mengoptimalkan lahan terbatas agar tetap produktif. Kegiatan ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan dan konsumsi internal, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan budidaya hortikultura,” kata Mulsa.

Ia menjelaskan media tanam yang digunakan memanfaatkan kompos produksi Lapas Pangkalpinang berbahan fly ash, limbah nonbahan berbahaya dan beracun (non-B3) hasil pembakaran batu bara.

Baca juga  Desa Pangkalbuluh Gelar Pelatihan Budidaya Ayam Kampung

Salah seorang warga binaan berinisial S mengatakan program tersebut memberinya pengalaman baru dalam budidaya tanaman. Ia terlibat sejak tahap menyiapkan media tanam hingga merawat tanaman.

“Saya belajar menyiapkan media tanam, merawat tanaman, hingga melihatnya tumbuh dan mulai berbuah. Pengalaman ini menjadi bekal yang bermanfaat bagi saya,” ujarnya.

Warga binaan lainnya, M, yang bertugas melakukan pemangkasan dan pengikatan tanaman pada tali rambat, menilai sistem vertikultur membuat perawatan tanaman menjadi lebih mudah.

“Dengan sistem vertikultur, tanaman lebih mudah dirawat dan pertumbuhannya lebih optimal. Kami berharap sekitar 20 hari lagi pare sudah dapat dipanen,” katanya.

Lapas Pangkalpinang menyatakan budidaya pare ini menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang diarahkan untuk meningkatkan keterampilan warga binaan sekaligus mendukung ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan secara lebih efisien. (Suf)

1 2Laman berikutnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!