
Menurutnya, sistem tersebut tidak membutuhkan nutrisi tambahan seperti yang diperlukan dalam sistem hidroponik.
Dalam konsep Budikdamber, kotoran ikan lele dapat menjadi sumber nutrisi bagi tanaman kangkung. Sebaliknya, tanaman kangkung membantu menyaring air sehingga kondisi air bagi ikan tetap lebih baik.
“Tanpa perlu menggunakan nutrisi tambahan, diharapkan lele dan kangkung dapat saling bersimbiosis. Kangkung memperoleh nutrisi dari kotoran lele, sementara lele tetap mendapatkan air yang lebih bersih karena kangkung berfungsi sebagai filter air alami,” jelasnya.
Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi KWT Mekar Berkarya untuk tetap menjalankan kegiatan produktif meskipun menghadapi keterbatasan bahan pendukung hidroponik.
Selain memberikan pengetahuan baru, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi anggota KWT untuk mengenal teknologi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan rumah.
Sementara itu, Penyuluh Desa Air Ruai, Juni Lestari, S.P., menyambut baik kegiatan pengabdian yang dilakukan UBB.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa dapat memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi kelompok tani.
Juni berharap KWT Mekar Berkarya dapat terus aktif mengembangkan berbagai kegiatan produktif yang memberikan manfaat bagi anggotanya maupun masyarakat sekitar.
“Kami berharap KWT Mekar Berkarya dapat terus aktif dalam berbagai kegiatan. Kehadiran pihak kampus di desa ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata dan manfaat bagi masyarakat,” tutur Juni.
Melalui kegiatan tersebut, UBB berharap inovasi Budikdamber tidak hanya berhenti pada tahap pengenalan, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh anggota KWT.
Pemanfaatan lahan dan wadah sederhana untuk menghasilkan ikan serta sayuran diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi masyarakat Desa Air Ruai. (*)




