PANGKALPINANG, MEDIAQU.ID — Dua puluh dulang Nganggung tersaji rapi di tengah halaman SD Negeri 28 Pangkalpinang. Mata para siswa pun sesekali tertuju ke arah dulang-dulang tersebut, seolah tak sabar menunggu waktu untuk membukanya. Namun, sebelum menikmati hidangan bersama, para siswa terlebih dahulu diajak menyimak lantunan ayat suci Al-Qur’an dan tausiah dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, Kamis (3/9/2026). Suasana hangat pagi hari dan penuh kebersamaan begitu terasa dalam kegiatan yang melibatkan siswa, guru, tata usaha, pengawas, serta para orang tua melalui paguyuban sekolah tersebut. Bagi keluarga besar SD Negeri 28 Pangkalpinang, Nganggung Bersama bukan sekadar tradisi makan bersama. Di balik 20 dulang yang tersaji, terdapat semangat gotong royong dan kebersamaan antara sekolah dan orang tua dalam mendukung kegiatan pendidikan. Mewakili Wali Kota Pangkalpinang dan Dinas Pendidikan, M. Saleh mengapresiasi keterlibatan paguyuban dan para orang tua yang telah membantu menyukseskan kegiatan tersebut. Ia mengatakan, kegiatan Nganggung merupakan agenda tahunan yang masuk dalam Rencana Kerja Sekolah (RKS) SD Negeri 28 Pangkalpinang. “Terima kasih kepada paguyuban yang telah menyukseskan acara ini dan membantu kegiatan sekolah,” ujar Saleh. Di hadapan para siswa, Saleh kemudian menyampaikan pesan penting. Menurutnya, peringatan Maulid Nabi tidak boleh hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW. Ia mengajak siswa menerapkan empat sifat Rasulullah, yakni Siddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah. “Siddiq itu jujur. Amanah berarti bertanggung jawab. Tabligh menyampaikan kebaikan, dan Fathonah berarti cerdas,” katanya. Saleh juga berpesan agar para siswa rajin belajar sebagai bekal menghadapi masa depan. Menurutnya, persaingan ke depan akan semakin ketat sehingga pendidikan menjadi modal penting bagi generasi muda. “Intinya rajin belajar. Itu menjadi bekal untuk masa depan kalian,” pesannya. Ia turut mengapresiasi penampilan siswa yang membacakan Al-Qur’an. Bacaan yang fasih, makhraj huruf yang baik serta lantunan yang indah mendapat perhatian khusus dalam kegiatan tersebut. Menariknya, Saleh sempat mengingatkan para siswa untuk bersabar mengikuti seluruh rangkaian acara. Ia memahami anak-anak sudah tidak sabar menunggu momen membuka dulang. “Kalau bisa tidak lama-lama. Saya tahu anak-anak sudah tidak sabar membuka dulangnya,” ujarnya disambut suasana antusias. Setelah rangkaian acara dan tausiah selesai, penantian para siswa akhirnya terbayar. Dua puluh dulang Nganggung dibuka dan dinikmati bersama. Momen tersebut menjadi penutup yang sederhana namun bermakna: Maulid Nabi dirayakan dengan doa, keteladanan, budaya lokal dan kebersamaan. (Suf)