
Menurut Edi, sekitar 224 hektare kawasan mangrove di wilayah tersebut telah ditetapkan melalui surat keputusan kementerian terkait. Kawasan itu dapat dimanfaatkan komunitas masyarakat untuk kegiatan yang mendukung pelestarian lingkungan.
Salah satunya melalui budidaya kepiting yang dikembangkan warga.
“Salah satu support dari sisi ekonomi untuk warga di Desa Kota Kapur adalah adanya pemberdayaan pembesaran dan penggemukan kepiting di kawasan mangrove ini,” jelasnya.
Dukungan ekonomi tersebut menjadi bagian penting agar masyarakat memiliki aktivitas produktif sekaligus kepentingan langsung dalam menjaga kawasan konservasi.
Dengan adanya peluang usaha, mangrove tidak hanya dipandang sebagai kawasan yang harus dilindungi, tetapi juga aset lingkungan yang memberikan manfaat bagi kehidupan warga.
Pulau Medang, Keindahan yang Belum Terjamah Rombongan
Perjalanan mengenal pesisir Kota Kapur sebenarnya belum berakhir.
Rombongan juga merencanakan kunjungan ke Pulau Medang, pulau terbesar dan terluas di kawasan perairan depan muara Sungai Desa Kota Kapur.
Pulau tersebut dikenal memiliki suasana sejuk dan rindang, dengan pantai berpasir putih yang menyimpan potensi wisata alam.
Dua perahu nelayan atau pompong disiapkan untuk membawa rombongan dari dermaga setempat. Perjalanan menuju pulau diperkirakan memakan waktu sekitar 30 menit.
Namun, alam memiliki rencana berbeda.
Saat dua perahu mulai bergerak membelah perairan, hujan turun. Kondisi cuaca membuat perjalanan terpaksa dihentikan. Rombongan akhirnya harus berbalik arah sebelum sempat menginjakkan kaki di Pulau Medang.
Meski demikian, Pulau Medang tetap menjadi gambaran lain dari kekayaan alam Kota Kapur yang berpotensi dikembangkan melalui pengelolaan wisata berbasis kelestarian lingkungan.
Konservasi Bukan Sekadar Menanam Pohon
Kegiatan yang dikoordinasikan Tim YKAN Babel tersebut menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, pengelola konservasi, pemerintah, dan insan pers.
Niki berharap para jurnalis dan humas pemerintah dapat menyebarluaskan informasi secara tepat mengenai pentingnya menjaga lingkungan, khususnya ekosistem pesisir Bangka Belitung.
Keterlibatan media dinilai strategis untuk memperluas pemahaman publik dan membangun kepedulian terhadap keberlanjutan kawasan mangrove.
Ke depan, salah satu fokus yang perlu terus diperkuat adalah bagaimana memastikan upaya pemulihan mangrove dapat berjalan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait lainnya.

Sebab, keberhasilan konservasi tidak cukup diukur dari luas kawasan yang ditanami atau jumlah bibit yang disiapkan. Keberlanjutannya juga ditentukan oleh perlindungan kawasan, konsistensi pengelolaan, serta kesejahteraan masyarakat yang hidup berdampingan dengan ekosistem tersebut.
Kota Kapur memperlihatkan bahwa ada jalan lain dalam memanfaatkan kekayaan pesisir. Mangrove bisa tetap berdiri, kepiting bisa dibudidayakan, dan masyarakat tetap memiliki peluang ekonomi.
Di tengah cerita panjang tentang timah di Bangka Belitung, warga Kota Kapur sedang memperjuangkan sesuatu yang tidak kalah berharga.
Hutan yang tetap hidup, pesisir yang terlindungi, dan masa depan yang masih bisa dinikmati anak cucu mereka.
Sebab, yang mereka jaga bukan hanya mangrove hari ini, melainkan kehidupan untuk generasi yang akan datang.
Catatan subuh
8 November 2026




