PROGRAM makan gratis yang dicanangkan pemerintah adalah langkah yang patut diapresiasi. Namun, perlu dipahami bahwa konsep dari program ini bukanlah tentang menyajikan makanan mewah atau hidangan ala restoran.
Fokus utamanya adalah memberikan asupan yang bergizi untuk anak-anak yang membutuhkan. Menu yang disajikan dirancang sederhana, sehat, dan cukup untuk porsi anak-anak.
Prinsipnya sangat jelas, lebih baik memberikan makanan dalam jumlah yang cukup dan habis dimakan, daripada menyediakan banyak namun berakhir terbuang.
Program ini memang tidak sempurna. Ada anak yang mungkin merasa kurang kenyang. Namun, itu bisa diatasi dengan makan kembali di rumah. Ada juga yang merasa kurang cocok dengan rasa makanannya, dan itu pun tidak masalah.
Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk menghabiskan makanan yang dirasa kurang enak. Bahkan, bagi orang tua yang merasa khawatir atau ragu dengan kualitas makanan gratis ini, membawa bekal dari rumah tetap bisa menjadi pilihan, asalkan berkoordinasi dengan pihak sekolah.
Namun, kita juga harus melihat program ini dengan lebih jernih. Tanggung jawab utama atas kebutuhan gizi anak tetap berada di tangan orang tua. Program makan gratis ini adalah bentuk dukungan, bukan pengganti.
Tujuan utamanya adalah membantu anak-anak dari keluarga yang menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan di rumah. Mungkin bagi sebagian orang, makanan yang disediakan terlihat biasa saja—menu sederhana, porsi kecil, rasa yang standar.
Tetapi bagi anak-anak yang berada dalam situasi sulit, misalnya anak yatim piatu yang diasuh oleh kakek atau neneknya dengan keterbatasan ekonomi, makanan ini bisa sangat berarti.




