Angka Stunting Pangkalpinang Turun ke 17,3 Persen, Pemkot Perkuat Kolaborasi BUMN
PANGKALPINANG, MEDIAQU.id — Angka stunting di Kota Pangkalpinang menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2024, prevalensi stunting tercatat 20,6 persen.
Pada 2025, angka tersebut turun menjadi 17,3 persen berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM), dengan 221 balita terdata mengalami stunting.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPPPAKB) Kota Pangkalpinang, Agustu Efendi, mengatakan penurunan ini merupakan hasil intervensi berkelanjutan yang dilakukan pemerintah daerah.
“Pemkot Pangkalpinang menjalankan dua kebijakan utama, yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif untuk menurunkan stunting,” kata Agustu kepada Mediaqu.id, Kamis (15/1/2026).
Intervensi spesifik dilakukan melalui pemberian makanan tambahan kepada ibu hamil, ibu menyusui, ibu pasca persalinan, baduta, dan balita.
Bantuan tersebut disalurkan oleh Dinas Kesehatan dan puskesmas dalam bentuk susu, telur, pangan olahan, tablet tambah darah, vitamin, dan suplemen gizi lainnya.
Sementara itu, intervensi sensitif difokuskan pada perbaikan lingkungan dan kualitas hidup keluarga berisiko stunting. Program ini meliputi penyediaan air bersih, pembangunan sumur bor, rumah layak huni, jamban sehat, serta sanitasi yang layak.
Agusto menambahkan, Wali Kota Pangkalpinang Prof. Saparudin mendorong keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan stunting.
Menurutnya pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Karena itu, kami mengajak BUMN dan pihak swasta bergotong royong,” ujarnya.
Salah satu bentuk kolaborasi tersebut ditunjukkan melalui kerja sama PT PLN dan TP PKK Kota Pangkalpinang yang menyalurkan bantuan sembako, susu, dan telur kepada keluarga berisiko stunting.
“Kami berharap kolaborasi lintas sektor terus diperkuat untuk menekan angka stunting secara berkelanjutan,” pungkasnya. (Suf)




