Lonjakan Kasus HIV dan TBC di Pangkalpinang, Ini Langkah Cepat Dinkes
PANGKALPINANG, MEDIAQU.id — Kasus penyakit menular yang tergolong dalam program ATM (AIDS, Tuberkulosis/TBC, dan Malaria) di Kota Pangkalpinang menunjukkan tren peningkatan pada awal tahun 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang, Widya Eva Sari, mengungkapkan bahwa peningkatan kasus cukup signifikan terjadi pada HIV/AIDS dan TBC.
“Untuk kasus AIDS di Kota Pangkalpinang ada peningkatan, terutama pada kelompok LSL. Untuk TBC juga mengalami peningkatan, baik dalam penemuan kasus maupun pelayanan pengobatan,” ujar Widya kepada Mediaqu.id, Jumat (10/4/2026).
Ia menambahkan, untuk kasus malaria di Pangkalpinang masih ditemukan, namun mayoritas merupakan kasus impor dari daerah endemik.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, kasus HIV/AIDS pada tahun 2025 tercatat sebanyak 133 kasus, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 121 kasus.
Sementara itu, pada periode Januari hingga Maret 2026, jumlah kasus yang tercatat menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai. Untuk HIV/AIDS terdapat 32 kasus, TBC sebanyak 152 kasus, dan malaria tercatat 1 kasus.
Dalam upaya menekan laju penyebaran penyakit tersebut, Dinkes Pangkalpinang mengoptimalkan pemanfaatan anggaran program ATM.
Langkah ini difokuskan pada pencapaian target yang belum terpenuhi, seperti investigasi kontak dan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), serta pemberian PrEP sebagai upaya pencegahan HIV.
“Pertemuan yang dilakukan kemarin lebih mengarah pada penyediaan anggaran ATM, sehingga kami memanfaatkan anggaran yang ada untuk mengejar target-target yang belum tercapai,” jelasnya.
Selain itu, pada tahun 2026 sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di luar Dinas Kesehatan juga mulai terlibat dalam mendukung program ATM.
Di antaranya Dinas Sosial, DP3AKB, Disnaker, Dinas Perkim, PUPR, serta Diskominfo. Dukungan juga datang dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan Palang Merah Indonesia (PMI).
Dinkes juga mendorong keterlibatan pihak swasta untuk berperan aktif, baik melalui dukungan anggaran maupun kegiatan yang menunjang program ATM.
“Karena ini merupakan program nasional dan juga bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM), maka target yang telah ditetapkan wajib terpenuhi,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes terus melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada masyarakat. Upaya ini dilakukan melalui kerja sama dengan Diskominfo dengan memanfaatkan media sosial, serta pengembangan layanan ATM di puskesmas dan fasilitas kesehatan swasta.
Namun demikian, Widya mengakui masih terdapat sejumlah kendala di lapangan. Di antaranya rendahnya peran aktif masyarakat, keterbatasan anggaran yang masih bergantung pada APBN dan bantuan hibah, serta masih adanya stigma negatif terhadap penderita TBC dan HIV.
“Stigma ini tidak hanya datang dari masyarakat, tetapi juga dari pasien itu sendiri, sehingga menjadi tantangan dalam penanganan kasus,” ungkapnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan stigma negatif terhadap penderita TBC dan HIV, serta meningkatkan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini.
“Jika ada anggota keluarga yang mengalami gejala TBC, segera periksakan ke puskesmas. Jaga kebersihan lingkungan untuk mencegah malaria, dan perkuat komunikasi dalam keluarga agar anak-anak terhindar dari perilaku berisiko,” pungkasnya. (Suf)




