Ketika Seniman Dibiarkan Berjuang Sendiri
Oleh: Taufik (Ki Badai GongGong), Tokoh Budaya Kutai dan Ketua Teater GongGong Balikpapan
Saya menulis opini ini bukan untuk mencari simpati, apalagi belas kasihan. Saya hanya ingin menyampaikan suara yang selama ini nyaris tidak terdengar.
Suara seorang pelaku seni dan budaya yang masih percaya bahwa kebudayaan adalah roh sebuah daerah, tetapi pada saat yang sama harus berjuang keras untuk mempertahankan hidup.
Perkenalkan, nama saya Taufik, namun masyarakat lebih akrab memanggil saya Ki Badai GongGong.
Saya adalah pelaku seni budaya Kutai sekaligus Ketua Teater GongGong Balikpapan. Selama bertahun-tahun saya mengabdikan diri di dunia seni dan budaya dengan keyakinan bahwa seni bukan sekadar hiburan, melainkan identitas, sejarah, dan jati diri sebuah bangsa.
Melalui seni, nilai-nilai luhur diwariskan kepada generasi muda. Melalui budaya, sebuah daerah dikenal dan dihormati. Namun ironisnya, orang-orang yang menjaga warisan itu justru sering hidup dalam kesulitan.
Sebagai pelaku seni di Kota Balikpapan, saya merasakan sendiri bagaimana ruang untuk berkarya semakin sempit. Tidak semua seniman memperoleh kesempatan yang sama.
Ada yang selalu mendapat panggung, ada yang terus dilibatkan dalam berbagai kegiatan, tetapi ada pula yang selalu berada di pinggir tanpa pernah diberi ruang untuk menunjukkan kemampuan.
Saya tidak ingin menuduh siapa pun. Namun sebagai orang yang mengalami sendiri, saya merasakan adanya ketidakadilan yang membuat banyak seniman kehilangan harapan.
Kami hanya menginginkan kesempatan yang sama. Kesempatan untuk berkarya, tampil, mengajar, dan berkontribusi bagi kota yang kami cintai.
Kondisi ini bukan sekadar persoalan harga diri seorang seniman. Ini juga menyangkut kehidupan keluarga. Ketika kesempatan berkarya semakin sedikit, penghasilan pun ikut berkurang.
Saya mengalami sendiri masa-masa yang sangat berat. Bahkan, ada hari-hari ketika keluarga saya harus hidup dalam keadaan sehari makan, sehari puasa.
Tidak mudah mengucapkan kalimat itu. Sebagai seorang kepala keluarga, tidak ada rasa yang lebih menyakitkan selain melihat orang-orang yang kita cintai ikut merasakan sulitnya kehidupan.
Yang membuat saya semakin sedih, kisah ini bukan hanya milik saya. Banyak rekan sesama pelaku seni mengalami keadaan yang sama.
Mereka memiliki bakat, pengalaman, dan dedikasi yang tinggi, tetapi tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Sebagian memilih diam karena merasa percuma. Sebagian lagi meninggalkan dunia seni demi mencari pekerjaan lain agar keluarganya tetap bisa menghidupi keluarganya.
Kalau keadaan ini terus dibiarkan, jangan salahkan jika suatu hari nanti generasi muda tidak lagi tertarik menjadi seniman. Mereka akan melihat bahwa menjadi pelaku budaya berarti harus siap hidup dalam ketidakpastian.
Padahal, sebuah daerah yang kehilangan senimannya perlahan juga akan kehilangan identitas budayanya.
Saya sering melihat pemerintah begitu bangga menampilkan kesenian daerah dalam berbagai acara resmi. Itu tentu sesuatu yang patut diapresiasi.
Namun jangan hanya bangga pada hasil pertunjukannya. Lihat pula kehidupan orang-orang yang berada di balik pertunjukan itu. Jangan biarkan seniman hanya diingat ketika acara akan dimulai, lalu dilupakan ketika panggung telah dibongkar.
Saya berharap pembinaan seni dilakukan secara terbuka, profesional, dan adil. Semua pelaku seni harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti program pemerintah, tampil dalam kegiatan budaya, maupun memperoleh dukungan.
Jangan sampai kesempatan hanya berputar pada kelompok atau orang-orang tertentu. Kebudayaan akan berkembang jika semua diberi ruang untuk tumbuh.
Saya juga berharap pemerintah lebih sering turun menemui para pelaku seni, mendengar keluhan mereka, dan memahami kenyataan yang mereka hadapi.
Kebijakan yang baik lahir dari keberanian mendengar, bukan hanya dari laporan di atas meja. Seniman tidak membutuhkan janji-janji yang indah. Kami membutuhkan kesempatan, perhatian, dan keberpihakan yang nyata.
Saya masih mencintai Balikpapan. Saya masih ingin terus berkarya di kota ini. Saya ingin melihat Balikpapan dikenal bukan hanya karena kemajuan pembangunannya, tetapi juga karena keberhasilannya merawat para seniman dan budayawannya.
Sebab, kota yang maju bukan hanya kota yang dipenuhi gedung pencakar langit, melainkan kota yang menghargai orang-orang yang menjaga sejarah, tradisi, dan jati dirinya.
Semoga tulisan ini tidak dipahami sebagai kemarahan, melainkan sebagai jeritan hati seorang pelaku seni yang masih memiliki harapan.
Harapan agar suatu hari nanti tidak ada lagi seniman yang harus memilih antara mempertahankan karya atau memberi makan keluarganya.
Sebab, ketika seorang seniman dipaksa berjuang sendirian untuk bertahan hidup, sesungguhnya yang sedang kehilangan bukan hanya dirinya, tetapi juga kebudayaan yang menjadi kebanggaan daerah.
Saya percaya, perhatian kepada seniman bukanlah bentuk belas kasihan. Itu adalah investasi untuk menjaga identitas sebuah kota. Sebab, tanpa seniman, panggung boleh tetap berdiri, tetapi ruh kebudayaan perlahan akan menghilang.Â




