BNPB Ungkap Jasad Terbungkus Kafan Pascabanjir Sumatra Berasal dari Pemakaman
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa sejumlah jasad yang ditemukan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra ternyata berasal dari area pemakaman yang terdampak bencana.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa beberapa jasad tersebut ditemukan dalam kondisi sudah terbungkus kain kafan dan berada ratusan meter dari lokasi makam.
“Seperti yang kami sampaikan sebelumnya, banjir dan longsor juga berdampak di area pemakaman. Beberapa jasad yang sebelumnya sudah dimakamkan kemudian terbawa material banjir dan longsor, lalu ditemukan oleh tim gabungan pencarian,” kata Abdul Muhari dalam konferensi pers, Senin (15/12/2025).
Abdul menegaskan, jasad-jasad tersebut bukan merupakan korban baru akibat bencana, melainkan warga yang telah meninggal dunia sebelum peristiwa banjir bandang dan longsor melanda tiga provinsi di Sumatra pada akhir November 2025.
Menurutnya, kondisi tersebut sempat mempengaruhi data awal korban meninggal dunia. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus melakukan verifikasi dan identifikasi korban secara ketat menggunakan metode by name by address untuk menghindari kesalahan pendataan.
“Pemerintah kabupaten melalui kecamatan sudah melakukan identifikasi by name by address. Ini penting agar tidak terjadi kesalahan pencatatan, mengingat dinamika data di lapangan sangat tinggi,” ujarnya.
Abdul menjelaskan, meski setiap hari terdapat penambahan temuan jasad, hasil verifikasi identitas di sejumlah daerah justru memengaruhi total angka korban meninggal dunia karena adanya koreksi data.
Jumlah Korban Meninggal Bertambah
BNPB mencatat, hingga Minggu (14/12/2025) pukul 20.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi di Sumatra bertambah menjadi 1.016 jiwa.
“Dalam pencarian terakhir ditemukan tambahan 10 jasad, sembilan di Aceh dan satu di Kabupaten Agam. Sehingga total korban meninggal yang sebelumnya tercatat 1.006 jiwa bertambah menjadi 1.016 jiwa,” kata Abdul.
Sementara itu, jumlah korban hilang dan masih dalam pencarian tercatat menurun dari 217 orang menjadi 212 orang. Abdul menjelaskan, penurunan tersebut tidak selalu berkorelasi langsung dengan jumlah temuan jasad di lapangan.
“Data korban hilang tidak selalu berasal dari temuan jasad. Ada juga kasus di mana korban yang sebelumnya dilaporkan hilang ternyata sudah ditemukan di lokasi lain atau berpindah wilayah, sehingga data harus disesuaikan,” jelasnya.
Menurut Abdul, proses pencatatan korban masih terus berlangsung secara dinamis, mengingat pergerakan penduduk dan proses evakuasi yang masih berjalan di sejumlah wilayah terdampak.
Jumlah Pengungsi Menurun
Selain korban jiwa, BNPB juga mencatat adanya penurunan jumlah pengungsi. Hingga saat ini, jumlah pengungsi tercatat menurun dari sekitar 654.000 orang menjadi 624.670 orang.
Namun demikian, Abdul menyebutkan pihaknya masih akan melakukan pengecekan lebih lanjut terhadap data tersebut.
“Masih kami konfirmasi apakah pengurangan ini karena pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing atau karena berpindah ke pengungsian mandiri, tetapi masih bergantung pada bantuan logistik,” ujarnya.
BNPB menegaskan akan terus memperbarui data korban dan pengungsi secara berkala seiring dengan proses pencarian, verifikasi identitas, serta penanganan darurat dan pemulihan pascabencana di wilayah terdampak.




