PANGKALPINANG, MEDIAQU.id — Kondisi industri perhotelan di Kota Pangkalpinang saat ini tengah menghadapi tekanan cukup berat. Menurunnya jumlah kunjungan wisatawan membuat tingkat hunian hotel mengalami penurunan, bahkan berdampak langsung terhadap penghasilan para pekerja hotel. Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang, Yan Rizana membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan, saat ini tingkat okupansi hotel di Pangkalpinang bergerak di kisaran 30 hingga 50 persen, dengan rata-rata hunian bertahan di angka 50 persen. “Kalau dibandingkan kondisi normal atau peak season, tentu ini turun. Biasanya tingkat hunian hotel bisa mencapai 70 persen,” kata Yan Rizana kepada Mediaqu.id, Selasa (19/5/2026). Menurutnya, kondisi ini membuat pihak hotel harus mengambil langkah defensif untuk mempertahankan operasional usaha. Salah satunya dengan memberikan diskon tarif kamar guna menarik minat wisatawan serta menjaga tingkat keterisian kamar tetap stabil. Meski demikian, upaya tersebut belum mampu menutupi dampak penurunan kunjungan wisatawan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Dampak paling terasa saat ini dialami para pekerja hotel yang harus menerima sistem kerja bergilir. “Ada kebijakan internal hotel yang menerapkan sistem kerja 15 hari dari biasanya 30 hari. Otomatis penghasilan karyawan juga ikut berkurang hingga setengahnya,” ujarnya. Yan menjelaskan, lesunya tingkat hunian hotel juga mulai berdampak terhadap sektor usaha lain yang berkaitan langsung dengan industri pariwisata. Mulai dari restoran, pelaku UMKM penjual oleh-oleh, hingga penyedia jasa transportasi lokal turut mengalami penurunan omzet. Jika kondisi ini terus berlangsung, kata dia, bukan tidak mungkin akan berdampak terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi daerah dan menurunnya Pendapatan Asli Daerah (PAD), khususnya dari sektor pajak hotel dan restoran. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Pangkalpinang melalui Dinas Pariwisata telah menyiapkan sejumlah langkah strategis guna meningkatkan kunjungan wisatawan. Salah satunya dengan memperbanyak penyelenggaraan event di Pangkalpinang melalui kerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) serta para Event Organizer (EO). “Kami akan memperbanyak event musik, sport tourism seperti event run, hingga kegiatan budaya untuk mendatangkan wisatawan,” jelasnya. Selain itu, Pemkot Pangkalpinang juga tengah menjajaki kerja sama dengan maskapai penerbangan dan travel agent untuk menghadirkan paket wisata murah atau bundling perjalanan menuju Pangkalpinang. Dalam waktu dekat, pihaknya bersama hotel dan travel agent lokal juga akan menggelar agenda Table Top di Palembang guna menarik agen perjalanan di wilayah Sumatera agar aktif menjual paket wisata ke Pangkalpinang. “Kami optimistis pariwisata Pangkalpinang bisa kembali bangkit jika semua pihak berkolaborasi,” tutup Yan. (Suf)