Headline

Bupati Bangka Tengah Tunggu Hasil Lab soal Siswa Keluhkan Kesehatan Usai MBG

BANGKA TENGAH, MEDIAQU.ID — Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman mengatakan tujuh siswa kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Arifin, Kecamatan Pangkalanbaru, mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (18/9/2026).

Keluhan yang dilaporkan meliputi mual, pusing, muntah, sakit perut hingga sesak. Namun, Algafry belum menyimpulkan keluhan tersebut berkaitan dengan makanan MBG.

Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang disajikan pada hari tersebut.

“Memang ada, tetapi saya ingin sampaikan bahwasannya sampai hari ini SPPG yang ada di Padang Baru 001 telah mendistribusikan ke 16 lokasi,” kata Algafry.

Menurut Algafry, makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Padang Baru 001 didistribusikan kepada sekitar 2.600 penerima di 16 lokasi. Namun, laporan keluhan kesehatan sejauh ini hanya berasal dari MI Al-Arifin.

“Dari 16 lokasi yang sudah didistribusikan kurang lebih 2.600, hanya satu lokasi ini yang melaporkan keluhan gejala,” ujarnya.

Algafry mengatakan tujuh siswa yang mengalami keluhan berada dalam satu ruang kelas yang berisi 27 siswa. Pemkab Bangka Tengah kemudian melakukan penelusuran dengan mendatangi sekolah, SPPG, serta menemui sejumlah siswa dan orang tua.

Bupati Ungkap Temuan Susu Bekas

Dalam penelusuran tersebut, Algafry menyebut adanya temuan kemasan susu bekas yang disimpan di dalam laci kelas selama sekitar dua pekan.

Menurut keterangan yang diterimanya, makanan MBG dibagikan sekitar pukul 08.45 WIB dan wadah makanan dikumpulkan kembali sekitar pukul 09.30 WIB.

Sekitar pukul 10.30 WIB, siswa mengikuti pelajaran prakarya. Saat hendak membuat karya, mereka meminjam gunting dan menemukan kemasan susu bekas di dalam laci.

Kemasan tersebut kemudian digunting bagian atasnya dan disebut mengeluarkan bau menyengat.

“Saya dengar langsung dari siswa, baunya seperti kotoran,” kata Algafry, menirukan keterangan siswa.

Algafry menegaskan susu tersebut bukan susu yang dibagikan dalam program MBG pada hari itu. Kemasan itu merupakan susu yang sebelumnya telah diminum, kemudian ditusuk dan disimpan di dalam laci selama sekitar dua pekan.

“Memang susu itu belum expired. Tetapi dia sudah bekas diminum, ditusuk, tetapi dibiarkan di situ,” ujarnya.

Meski menemukan kondisi tersebut, Algafry tidak menyimpulkan bahwa susu bekas itu menjadi penyebab keluhan kesehatan siswa. Pemeriksaan laboratorium terhadap makanan MBG tetap dilakukan.

“Kita tunggu hasil lab. Mungkin besok keluarnya,” kata Algafry.

Ia juga mengatakan salah seorang siswa yang ditemuinya bersama orang tuanya telah membaik dan sudah dapat makan serta beraktivitas.

Baca juga  Bentuk Tanggung Jawab Sosial, PT Timah Tbk Aktif dalam Penanggulangan Bencana Alam

Sekolah Sebut Enam Siswa Muntah

Sementara itu, pihak MI Al-Arifin sebelumnya menyebut enam siswa dibawa ke UPT Puskesmas Girimaya setelah mengalami keluhan kesehatan.

Perbedaan jumlah tersebut muncul karena Algafry menyebut tujuh siswa mengalami gejala, sedangkan pihak sekolah menyebut enam siswa yang kemudian mendapat pemeriksaan di puskesmas.

Guru MI Al-Arifin, Amanda, mengatakan makanan MBG dibagikan sekitar pukul 08.00 WIB dan mulai disantap siswa sekitar pukul 08.30 WIB.

Sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB, seorang siswa melaporkan menemukan ulat di dalam salah satu kemasan susu.

“Bu, ada ulat,” kata siswa tersebut, sebagaimana ditirukan Amanda.

Setelah temuan itu, sejumlah siswa mulai mengeluhkan mual, sakit perut dan pusing. Enam siswa kemudian mengalami muntah dan dibawa ke UPT Puskesmas Girimaya sekitar pukul 10.30 WIB.

“Yang muntah semuanya, enam-enamnya muntah,” ujar Amanda.

Amanda mengatakan temuan ulat hanya terdapat pada satu kemasan susu. Pihak sekolah juga belum dapat memastikan apakah keluhan kesehatan siswa berkaitan dengan makanan MBG.

“Enggak tahu, itu anak-anak antara dari luar apa dari MBG, belum tahu,” katanya.

Pemprov Babel Turunkan Tim Periksa Dapur MBG

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turut menelusuri kejadian tersebut.

Gubernur Babel Hidayat Arsani mengatakan pemerintah akan mengirim tim untuk memeriksa dapur penyedia MBG guna mengetahui apakah terdapat kaitan antara makanan yang diproduksi dengan keluhan kesehatan siswa.

“Kami kirim tim untuk mengecek, apakah makanan dari dapur MBG atau bukan yang menyebabkan keracunan itu,” kata Hidayat kepada MerdekaToday.id, Jumat (18/9/2026).

Hidayat mengatakan tindakan akan diberikan kepada penyedia MBG apabila hasil pemeriksaan menemukan adanya kelalaian.

“Pastinya ditindak tegas dapur MBG-nya kalau sampai ada kelalaian yang menyebabkan siswa keracunan,” ujarnya.

Penyebab Keluhan Masih Ditelusuri

Hingga Jumat sore, penyebab keluhan kesehatan siswa belum dapat dipastikan. Pemeriksaan medis dan laboratorium masih diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kaitan dengan makanan MBG.

Kepala UPT Puskesmas Girimaya, Emi Yuliani, belum memberikan keterangan mengenai hasil pemeriksaan terhadap para siswa.

Dengan demikian, temuan ulat pada satu kemasan susu, kondisi susu bekas yang disimpan di dalam laci, serta keluhan kesehatan siswa masih menjadi bagian dari rangkaian informasi yang sedang ditelusuri.

Kesimpulan mengenai penyebab kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan laboratorium. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!