Lelang Sekda Sukamaju, Dari Rp150 Ribu Ban Bekas hingga Kursi Merah Legendaris!
DI SEBUAH kota kecil bernama Sukamaju sebuah pengumuman dari Bupati membuat gempar masyarakat. Pak Bupati Sukiman, yang terkenal karena ide-idenya yang nyeleneh, mengumumkan akan melelang jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) yang baru kosong.
“Ini demi transparansi dan efisiensi!” katanya dalam konferensi pers. “Kita lelang saja. Siapa pun yang mau bayar paling mahal, dialah yang pantas duduk di kursi Sekda.”
Warga tentu saja heboh. Grup WhatsApp RT, warung kopi, dan pos ronda langsung penuh dengan spekulasi. Ada yang bilang ini ide brilian, ada yang menganggapnya konyol. Tapi semua sepakat: acara ini bakal jadi tontonan yang seru.
Hari lelang tiba. Balai Kota Sukamaju penuh sesak seperti pasar malam. Ada politisi, pengusaha, pedagang pasar, bahkan tukang parkir ikut berdatangan. Di pojokan, pedagang gorengan membuka lapak dadakan. “Cilok, gorengan, sekalian beli kursi jabatan!” teriaknya.
Di atas panggung, Pak Bupati Sukiman berdiri dengan percaya diri. Di sebelahnya, sebuah kursi empuk berwarna merah dengan ukiran kayu mengilap dipajang seperti harta karun. Di bawahnya ada tulisan besar: “KURSI SEKDA – HARGA AWAL: Rp500 JUTA.”
“Baik, bapak-ibu sekalian!” seru Pak Sukiman sambil tersenyum lebar. “Lelang kita mulai sekarang. Ingat, jabatan Sekda ini penuh prestise, fasilitas lengkap, dan tentunya… gaji besar! Harga awal lima ratus juta. Silakan tawar lebih tinggi!”
Tangan pertama yang terangkat adalah milik Pak Herman, seorang pengusaha properti lokal. “Saya tawar Rp600 juta, Pak!”
Sorak-sorai terdengar. Tapi belum selesai, Bu Erni, pemilik supermarket terbesar di kota itu, langsung berdiri. “Rp800 juta!” katanya sambil menatap tajam ke arah Pak Herman.
Pak Herman tersenyum sinis. “Rp1 miliar!”
Suasana semakin panas. Warga mulai berbisik-bisik.
Saat suasana semakin serius, seorang pria kurus dengan kemeja kebesaran tiba-tiba berdiri dari barisan belakang. Ia adalah Pak Dul, seorang tukang tambal ban.
“Pak Bupati, saya ikut tawar. Tapi duit saya cuma Rp150 ribu. Kalau kurang, saya tambahin dua ban bekas.”
Tawa warga meledak. Pak Sukiman mencoba menenangkan diri sambil menahan tawa. “Pak Dul, ini bukan lelang sepeda motor. Silakan duduk dulu, ya.”
Namun, Pak Dul tidak menyerah. “Kalau gitu, saya tawar Rp150 ribu, ban bekas, plus bonus tambal gratis untuk pegawai negeri!”
Ruangan kembali riuh. Ada yang tertawa sampai batuk-batuk.
Kembali ke peserta utama, kini tawaran sudah mencapai angka Rp3 miliar, dengan Pak Herman dan Bu Erni bersaing ketat.
“Kalau saya menang,” ujar Pak Herman dengan penuh percaya diri, “saya janji bangun gedung olahraga baru untuk kota kita!”
Bu Erni langsung membalas. “Kalau saya jadi Sekda, saya akan bagikan sembako gratis tiap bulan untuk warga Sukamaju”
Warga bersorak, meski ada beberapa yang mulai bingung. Apakah ini lelang jabatan atau kampanye Pemilu?
Tiba-tiba, seorang peserta baru berdiri. Ia adalah Pak Tohir, pemilik warung pecel lele di pinggir jalan.




