Cerpen

Lelang Sekda Sukamaju, Dari Rp150 Ribu Ban Bekas hingga Kursi Merah Legendaris!

“Saya nggak punya uang miliaran, tapi kalau saya menang, saya janji kasih makan gratis untuk semua orang di Balai Kota tiap malam Jumat!”

Warga langsung heboh. Beberapa bahkan bersorak, “Hidup pecel lele!”

Di tengah ketegangan itu, seseorang yang tidak diduga-duga mengangkat tangan. Ternyata dia adalah Bu Yati, seorang nenek tua yang terkenal pelit di kampung.

“Saya tawar Rp10 miliar!” katanya lantang.

Semua orang terdiam, termasuk Pak Sukiman. Nenek tua itu tampak serius, meski di tangannya hanya ada tas anyaman lusuh.

“Bu Yati, dari mana ibu dapat uang sebanyak itu?” tanya Pak Sukiman dengan nada hati-hati.

“Saya nggak punya uang, tapi saya punya warisan tanah luas di desa sebelah. Kalau dijual, harganya pasti lebih dari itu!”

Pak Sukiman terdiam. Warga mulai bertepuk tangan, mengira Bu Yati benar-benar serius. Namun, tiba-tiba Bu Yati tertawa.

“Canda, Pak! Saya cuma mau lihat wajah bapak panik. Teruskan lelangnya!”

Ruangan langsung meledak dengan tawa. Setelah drama panjang, akhirnya lelang dimenangkan oleh Bu Erni dengan tawaran Rp5 miliar, ditambah janji sembako gratis.

Pak Herman terlihat kecewa, sementara Pak Dul dengan santai mengambil gorengan dari pedagang di pojok ruangan.

Baca juga  Obsesi Pencitraan dan Air Mata Buaya Sang Pemimpin

Namun, sebelum Bu Erni sempat naik ke podium untuk menerima kursinya, seorang pria tua masuk ke ruangan. Ia adalah Pak Harun, mantan Sekda yang baru saja pensiun.

“Pak Bupati, saya mohon maaf mengganggu,” katanya. “Tapi saya ingin menyerahkan kunci ruang kerja Sekda. Dan satu lagi, saya hanya ingin berpesan, jabatan itu bukan soal harga atau uang, tapi soal tanggung jawab dan pelayanan.”

Ruangan hening. Warga yang tadi tertawa kini mulai merenung. Bahkan, Bu Erni terlihat ragu-ragu.

Pak Sukiman akhirnya mengambil mikrofon. “Bapak-bapak, ibu-ibu, saya pikir… mungkin kita terlalu berlebihan. Kursi jabatan ini tidak boleh diperjualbelikan. Lelang ini saya batalkan. Kita kembali ke proses seleksi formal.”

Meski lelang dibatalkan, acara hari itu tetap menjadi bahan pembicaraan warga selama berminggu-minggu. Kursi merah yang tadinya dilelang akhirnya diberikan ke Pak Dul sebagai hadiah hiburan.

Kini, kursi itu dipajang di depan tambal bannya, dengan tulisan besar: “TAMBAL BAN EKSKLUSIF, DUDUK DI KURSI SEKDA!”

Dan setiap malam, pelanggan yang datang selalu tertawa melihat kursi itu sambil mendengar Pak Dul bercerita, “Siapa sangka, kursi ini dulunya bikin orang-orang rebutan miliaran!”

Ahamd Yusuf
Bangka Selatan, 25 Januari 2025

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!