PT Timah Tbk

Kisah Masyarakat Adat Mapur Bangka Menjaga Hutan dan Tradisi Bersama PT TIMAH

BANGKA — Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, masyarakat Adat Mapur di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka, masih menjaga cara hidup yang diwariskan leluhur mereka. Hutan, ladang, hingga ritual adat tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat Mapur, alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan bagian dari identitas yang harus dijaga. Prinsip hidup mereka sederhana: mengambil secukupnya dan hidup berdampingan dengan alam.

Cara hidup seperti itu pernah disebut pemikir ekonomi Karl Polanyi sebagai sistem sosial-ekonomi subsisten, yakni pola hidup masyarakat yang memenuhi kebutuhan tanpa berlebihan.

Di Bangka Belitung sendiri, kebudayaan tumbuh dari relasi manusia dengan alam. Ada masyarakat yang hidup di ladang, ada yang bergantung pada laut, dan ada pula yang hidup di kawasan hutan. Para antropolog sejak era kolonial membagi masyarakat Bangka Belitung ke dalam tiga kelompok besar, yakni orang bukit, orang darat, dan orang laut.

Hubungan antarkelompok itu kemudian membentuk sistem sosial yang saling melengkapi. Filosofinya tergambar dalam peribahasa “asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam belanga”.

Namun, modernitas perlahan mengubah banyak hal. Sosiolog Anthony Giddens dalam bukunya The Consequences of Modernity menggambarkan modernisme seperti “kereta baja” yang melaju tanpa kendali dan menyeragamkan kehidupan manusia.

Baca juga  PT TIMAH Tbk Wujudkan Semangat Pahlawan Lewat Pengelolaan Timah untuk Kemandirian Ekonomi Bangsa

Perubahan itu turut memengaruhi pola ekonomi, nilai sosial, hingga budaya yang perlahan menjadi komoditas. Meski demikian, sebagian masyarakat adat tetap bertahan menjaga nilai lama yang diwariskan turun-temurun.

“Kami semua yang ada di sini akan tetap menjaga alam, menjaga hutan yang makin hari makin tergerus,” kata Ketua Lembaga Adat Mapur, Asih, saat Ritual Adat Nujuh Jerami di Kampung Adat Gebong Memarong, 29 April 2026 lalu.

Jejak keberadaan masyarakat Mapur bahkan telah tercatat dalam ekspedisi kolonial Belanda tahun 1803. Sejak masa Hindia Belanda hingga Indonesia merdeka, mereka tetap hidup di kawasan tersebut.

“Sampai hayat tak dikandung badan, bang,” ujar Jojo, salah seorang penghayat Adat Mapur sambil tersenyum.

Jojo mengatakan, selain warga yang menetap di Dusun Air Abik, masih ada sekitar 150 warga lainnya yang hidup berpindah di kawasan Hutan Pejem.

“Mereka juga sekolah, bahkan ada yang kuliah. Kami sering bertemu kalau ada yang ingin ditukar,” katanya.

1 2Laman berikutnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!