Kisah Masyarakat Adat Mapur Bangka Menjaga Hutan dan Tradisi Bersama PT TIMAH
Bagi masyarakat Mapur, perubahan zaman bukan sesuatu yang sepenuhnya ditolak. Mereka tetap beradaptasi tanpa meninggalkan akar budaya.
Hal itu terlihat dalam Ritual Adat Nujuh Jerami yang terus dilaksanakan hingga kini. Ritual tersebut bahkan semakin dikenal luas setelah mendapat dukungan dari PT TIMAH.
“Kami sudah melakukan ritual ini sejak zaman kakek-nenek. Bedanya sejak 2017, setelah ada bantuan PT TIMAH, banyak orang datang melihat dan bertanya-tanya. Jadi sekarang lebih meriah,” ujar Jojo.
Dukungan itu tidak hanya hadir dalam bentuk penyelenggaraan kegiatan adat. PT TIMAH juga terlibat dalam upaya pelestarian budaya melalui penerbitan buku Mapur Mendulang Kisah Meraup Berkah yang mendokumentasikan cerita masyarakat Adat Mapur.
Buku tersebut kemudian diperkenalkan ke sekolah-sekolah sebagai bahan literasi budaya agar generasi muda mengenal sejarah dan akar budayanya.
Selain itu, PT TIMAH turut mendukung pembangunan Kampung Adat Gebong Memarong sebagai ruang belajar budaya masyarakat Mapur.
Memarong merupakan rumah tradisional masyarakat Mapur yang dibangun menggunakan bahan-bahan alami seperti kayu, rotan, kulit kayu, serta daun nipah tanpa menggunakan paku.
Bangunan itu menjadi simbol pengetahuan lama masyarakat tentang cara hidup yang selaras dengan alam.
Tak berhenti pada pelestarian simbolik, PT TIMAH juga memberikan pelatihan membatik, bantuan alat tenun, hingga pelatihan pemandu wisata bagi masyarakat adat.
Kini, Kampung Adat Gebong Memarong berkembang menjadi ruang budaya sekaligus destinasi edukasi yang dikunjungi pelajar maupun tamu dari berbagai daerah.
Di tempat itu, tradisi tidak sekadar dikenang sebagai masa lalu. Ia terus hidup melalui masyarakat yang menjaganya, sekaligus melalui dukungan berbagai pihak agar warisan budaya tetap bertahan di tengah perubahan zaman. (*)
Sumber : www.timah.com




