Ribuan Pelanggan Terancam, Krisis PAM Bangka Selatan Tak Bisa Lagi Ditutupi
Oleh: Redaksi
Krisis pelayanan air bersih yang terjadi di UPT PAM Kabupaten Bangka Selatan kini semakin sulit disembunyikan. Di tengah derasnya keluhan pelanggan terkait distribusi air yang kerap terganggu, terungkap persoalan mendasar yang diduga menjadi akar masalah pelayanan selama ini.
Temuan di lapangan menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi UPT PAM bukan sekadar gangguan teknis biasa. Keterbatasan sarana dan infrastruktur vital disebut menjadi penyebab utama distribusi air tidak berjalan optimal kepada ribuan pelanggan yang tersebar di sejumlah kecamatan seperti Toboali.
Ironisnya, di saat masyarakat terus mengeluhkan air yang tidak mengalir, para pegawai UPT PAM tetap bekerja di lapangan untuk memastikan pelayanan berjalan semaksimal mungkin. Mereka menjadi pihak yang paling sering berhadapan langsung dengan keluhan pelanggan, meski persoalan sesungguhnya diduga berada pada minimnya dukungan fasilitas operasional.
Salah satu fakta yang cukup mengejutkan adalah keberadaan pompa intake yang menjadi komponen utama dalam sistem penyediaan air bersih. Berdasarkan informasi yang dihimpun, UPT PAM Bangka Selatan hanya mengandalkan satu unit pompa intake untuk menyedot dan mengalirkan air baku menuju Instalasi Pengolahan Air (IPA).
Padahal pompa intake merupakan jantung dari seluruh proses distribusi air bersih. Jika alat tersebut mengalami gangguan atau kerusakan, maka pasokan air kepada pelanggan secara otomatis akan terganggu.
Kondisi semakin mengkhawatirkan karena tidak tersedia pompa cadangan yang dapat langsung mengambil alih fungsi ketika pompa utama mengalami kendala. Situasi ini membuat sistem pelayanan air bersih di Bangka Selatan berada dalam posisi yang sangat rentan.
Akibatnya, setiap kali terjadi gangguan pada pompa utama, masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Keluhan terkait air yang tidak mengalir pun terus bermunculan di berbagai wilayah pelayanan.
Persoalan ini semakin menjadi perhatian publik setelah beredarnya unggahan Kepala UPT PAM Bangka Selatan, Siswoyo, yang menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya pada Jumat (12/6/2026).
Dalam pesan yang disampaikan melalui media sosial, Siswoyo menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan PAM Bangka Selatan atas berbagai kekurangan selama dirinya menjalankan tugas.
Meski tidak menjelaskan alasan pengunduran dirinya secara rinci, muncul berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang menduga keputusan tersebut berkaitan dengan beratnya persoalan pelayanan yang harus dihadapi di lapangan.
Namun hingga kini belum ada pernyataan resmi yang menghubungkan pengunduran diri tersebut dengan kondisi infrastruktur pelayanan air bersih.
Yang jelas, persoalan yang terjadi saat ini tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pegawai maupun kepala UPT semata. Secara kelembagaan, UPT PAM Bangka Selatan berada di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bangka Selatan melalui Bidang Cipta Karya.
Artinya, penyelesaian persoalan membutuhkan dukungan kebijakan dan penganggaran yang memadai dari pemerintah daerah.
Pengamat pelayanan publik menilai keberadaan pompa intake cadangan seharusnya menjadi kebutuhan mendasar dalam sistem pelayanan air bersih. Ketergantungan pada satu unit pompa dinilai berisiko tinggi terhadap keberlangsungan distribusi air kepada masyarakat.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan didorong untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi sarana dan infrastruktur PAM. Penambahan pompa intake cadangan, peningkatan kapasitas instalasi, serta perbaikan jaringan distribusi menjadi langkah yang dinilai mendesak.
Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak bisa ditawar. Ketika distribusinya terganggu dalam waktu lama, yang terdampak bukan hanya aktivitas rumah tangga, tetapi juga sektor pendidikan, kesehatan, hingga perekonomian masyarakat.
Jika persoalan ini terus dibiarkan tanpa solusi konkret, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas pelayanan PAM, melainkan juga kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar warganya.
Kini masyarakat menunggu langkah nyata. Sebab bagi ribuan pelanggan PAM di Bangka Selatan, yang dibutuhkan bukan sekadar penjelasan, melainkan kepastian bahwa air bersih tetap mengalir ke rumah mereka setiap hari. (*)



