UBB

Bukan Sekadar Simulasi, WOPP 2026 UBB Latih Mahasiswa Berpikir Kritis Lewat Kasus Nyata

BANGKA, MEDIAQU.ID – Sebanyak 93 mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB) mengasah kemampuan kepemimpinan dengan mengamati langsung fenomena sosial di masyarakat dalam Workshop Ormawa Pembangun Peradaban (WOPP) 2026 di Pantai Temberan, Bangka Belitung, pada 2–4 Oktober 2026.

Berbeda dari pelatihan yang mengandalkan simulasi dan permainan, WOPP tahun ini mengajak mahasiswa menelusuri persoalan nyata, menganalisis penyebabnya, dan merumuskan pemahaman berdasarkan kondisi di lapangan.

Salah satu fenomena yang dikaji adalah kebiasaan sebagian pekerja tambang inkonvensional (TI) yang tidak melakukan aktivitas penambangan pada hari Jumat. Mahasiswa menelusuri latar belakang kebiasaan tersebut untuk memahami kaitan antara aktivitas ekonomi, kehidupan sosial, dan nilai keagamaan masyarakat.

Dari pengamatan peserta, kebiasaan itu berkaitan dengan pelaksanaan ibadah salat Jumat oleh pekerja yang mayoritas beragama Islam.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya UBB mengembangkan kemampuan berpikir kritis (critical thinking), pemecahan masalah (problem solving), serta kerja sama tim di kalangan pengurus organisasi kemahasiswaan.

WOPP 2026 berlangsung selama tiga hari dua malam dan diikuti 93 mahasiswa dari target 122 peserta. Kegiatan dibuka Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan (BAKK) UBB, Hesty, M.Pd., serta ditutup Wakil Rektor I UBB, Prof. Dr. Devi Valeriani, M.Si.

Baca juga  UBB Latih Warga Kurau Olah Hasil Laut Bernilai Tambah, Kenalkan Kombucha Spirulina

Belajar dari Fenomena Nyata

Hesty menjelaskan, pengembangan kepemimpinan harus dimulai dari kemampuan mengelola diri sendiri sebelum seseorang memimpin dan bekerja sama dengan orang lain.

“Melalui WOPP ini, kami ingin mengasah kemampuan kepemimpinan setiap peserta, mulai dari bagaimana mereka mengelola diri sendiri hingga mampu bekerja sama dan mengelola tim,” ujar Hesty.

Ia mengatakan, metode pelatihan tahun ini berbeda dari pelaksanaan 2025. Jika sebelumnya kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah diasah melalui simulasi serta permainan, pada 2026 mahasiswa didorong melakukan penelitian langsung dan mengkaji kasus nyata di masyarakat.

Untuk mendukung metode tersebut, UBB bekerja sama dengan Impessa Experience melalui pendekatan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman.

Mahasiswa terlibat dalam pengamatan, diskusi, analisis persoalan, hingga refleksi. Proses ini dirancang agar peserta tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, tetapi mempertimbangkan konteks sosial dan budaya sebelum menentukan cara memahami suatu masalah.

Kajian mengenai kebiasaan pekerja TI pada hari Jumat, misalnya, memberikan gambaran bahwa fenomena sosial tidak selalu dapat dipahami hanya dari apa yang terlihat. Diperlukan penelusuran informasi dan pemahaman terhadap kebiasaan masyarakat untuk mengetahui latar belakang suatu peristiwa.

Kepemimpinan Diuji Lewat Kerja Tim

1 2Laman berikutnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!